Rayakan HUT ke-47, REI Kaltim Gelar Acara Syukuran

- DPD Realestat Indonesia (REI) Provinsi Kalimantan Timur gelar syukuran untuk mengeratkan solidaritas lintas anggota.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 12 Februari 2019  |  01:19 WIB
Rayakan HUT ke-47, REI Kaltim Gelar Acara Syukuran
Gedung REI Kalimantan Timur. JIBI/Bisnis - Gloria Katharina Lawi

Bisnis.com, SAMARINDA - DPD Realestat Indonesia (REI) Provinsi Kalimantan Timur gelar syukuran untuk mengeratkan solidaritas lintas anggota.

Ketua DPD REI Kalimantan Timur Bagus Susetyo mengatakan sengaja mengadakan acara HUT-47 REI untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota pengembang. 

Ikatan solidaritas antar pelaku usaha properti ini dia rasa penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan jelang tahun politik yakni Pilpres dan Pileg 2019.

"Saya berharap dengan silaturahmi dan bertemu tatap muka paling tidak secara psikologi pemikiran bisa optimis. Jadi bisa saling berbagi dan saling menyampaikan apa itu kemudahan kendala," kata Bagus kepada Bisnis di Graha REI, Senin (11/2/2019).

Pada acara HUT ke-47 REI selain anggota turut hadir pula para instansi terkait seperti perbankan, birokrasi, dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN).

Bagus menjelaskan kondisi bisnis properti tahun ini diprediksi hampir sama dengan tahun yang lalu, mungkin enam bulan lagi tak jauh berbeda karena ekonomi melambat secara global.

Dia menilai hal itu berdampak ke perekonomian Indonesia. Kaltim yang sebenarnya hanya bergerak berkat perusahaan minyak dan batubara akan cenderung sangat fluktuatif pertumbuhannya. 

"Di satu sisi anggaran pembangunan normal tidak separah sekarang karena terjadi defisit anggaran. Pemangkasan. Proyek pembangunan kurang sehingga ekonomi rakyat ini di beberapa sektor menurun dan berdampak ke daya beli masyarakat," ujar Bagus.

Dia memberi contoh pada 3-5 tahun lalu bisnis properti masih bagus karena banyak pendatang. Mereka menginginkan rumah dan ekonomi rakyat berjalan. Selain properti bisnis transportasi juga bergerak. 

"Relatif sebenarnya rumah subsidi ini masih banyak peluang. Masih banyak market. Masih banyak konsumen. Untuk yang menengah ke atas di atas Rp500 juta relatif berat," terang Bagus soal tantangan properti tahun ini. 

Dia memprediksi pelemahan bisnis properti dalam 3 tahun ini memang spesifik pada segmen rumah di atas Rp500 juta atau pengembang komersial.

"Pengembang yang dulu komersial kini ramai-ramai mengembangkan rumah subsidi," terangnya.

Bagus menilai untuk bisa mempertahankan eksistensi pengusaha properti di Kaltim, lebih baik para pengembang menghabiskan stok yang masih tersisa. Kondisi over supply saat ini perlu ditekan dengan menjual ketimbang membuka proyek baru selama kondisi perekonomian belum membaik.

"Prediksi dan harapan saya mungkin baru bisa membaik pada 2020," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim, rei

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top