Pabrik Semen Kutai Timur Belum Kantongi Izin Pemprov Kaltim

Polemik penolakan pabrik semen di Kutai Timur ternyata belum mengantongi izin pengajuan investasi ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan terpadu Satu Pintu Kalimantan Timur.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 08 April 2019  |  20:31 WIB
Pabrik Semen Kutai Timur Belum Kantongi Izin Pemprov Kaltim
Iustrasi pabrik semen - Antara/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, SAMARINDA – Polemik penolakan pabrik semen di Kutai Timur ternyata belum mengantongi izin pengajuan investasi ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan terpadu Satu Pintu Kalimantan Timur.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kalimantan Timur Abdullah Sani menanggapi penolakan terhadap pabrik semen di Kutai Timur sebenarnya tidak relevan.

Dia beralasan, sampai hari ini pihaknya belum menerima ataupun menandatangani izin investasi pabrik semen di kawasan tersebut.

“Sampai sekarang saya belum tanda tangani. Belum tahu,” kata Sani di Kantor DPMPTSP, Senin (8/4/2019).

Sani menyebut, pabrik yang ditarget bisa mulai beroperasi pada 2020 itu, mungkin sudah memiliki izin pertambangan karst dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.

“Izin itu kabupaten kota. Sampai hari ini saya belum pernah tandatangani pabrik industri semennya. Belum masuk,” tegas Sani.

Secara terpisah, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Hadi Mulyadi pun mencoba melakukan dialog dengan aksi mahasiswa gabungan sejumlah organisasi.

Suasana demonstrasi di depan Kantor Gubernur Kaltim cukup ricuh meski hujan mengguyur. Aksi sempat dibubarkan dengan gas air mata dari apparat kepolisian. Menanggapi kericuhan itu, Hadi berjanji akan mengkaji ulang perizinan pabrik semen di Kutai Timur.

“Saya harus kaji. Kalau mereka ada kajian silakan sampaikan kepada saya. Kalian punya kajian kasih kepada saya. Kalau ada yang tidak benar kita batalkan. Saya tadi baru rapat ada sedikit masalah. Kita akan batalkan kalau bermasalah. Jangan pakai cara-cara yang katanya mau berdialog tapi tidak berdialog,” terang Hadi.

Dia menceritakan dirinya tidak bisa menyanggupi kehendak massa yang langsung meminta Hadi dan Pemprov Kaltim segera membatalkan izin pembangunan pabrik semen.

Dia menilai harus ada data yang akurat sebelum pemerintah mengeksekusi kelanjutan rencana ekspansi dua perusahaan yakni PT Kobexindo Cement dan Hongshi Holdings dari Cina.

“Saya akan tinjau ke lapangan. Saya akan meminta diberikan data yang valid. Hitam-putih sampaikan. Ada yang tidak nyaman, sampaikan. Hitam putihnya ditolak. Kalau ada yang salah kita tolak. Saya tidak ada urusan dengan uang mereka itu. Mau invest dalam negeri, mau dari Arab, Cina, kalau tidak memenuhi syarat silakan keluar dari Kaltim. Kalau memenuhi syarat silakan bekerjasama yang baik,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur Muhammad Nur tak menampik bahwa semua ekspansi industri pasti akan memberi dampak pada lingkungan meski kecil.

Meskipun begitu, Nur menilai resiko tak lantas membuat perkembangan industi harus selalu ditolak. Nur menilai pertumbuhan industri baru akan menggeliatkan kota baru.

“Yang seharusnya didiskusikan adalah bagaimana kita meminimalisir dampak lingkungan. Jadi bukan ditolak pabrik semen, tetapi dikelola. Sumber daya alam itu dikelola, paling tidak diminimalisir,” terang Nur beberapa waktu yang lalu.

Dia menjelaskan, ada dampak jangka panjang yang akan diberikan dengan pengoperasian pabrik semen. Salah satunya adalah penyerapan tenaga kerja. Selain itu kehadiran pabrik semen ini nantinya akan memberikan suntikan investasi yang besar di Bumi Etam.

“Misalnya dia buka di Kutim [Kutai Timur] itu pusat karst. Dan disana daerah terpencil, kalau disitu bisa tenaga kerjanya terserap. Itu bisa tumbuh jadi kota baru. Perdagangan tumbuh. Orang kuliner, jual makanan juga tumbuh. Mungkin juga disana akan tumbuh penginapan,” terang Nur.

Sebelumnya, Manajer Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Wahyu A. Perdana menyatakan pemerintah daerah tidak paham tentang ekosistem karst.

Dia menyebut bentang alam karst tidak dibatasi oleh batas administrasi kabupaten atau kota.

“Kerusakan satu lokasi saja pada bentang alam karst akan berakibat pada perubahan aliran sungai bawah tanah,” kata Wahyu.

Wahyu menjelaskan bahwa karst Sangkulirang memiliki karakteristik relief dan drainase yang khas. Klaim bahwa pabrik semen tidak berdampak pada kawasan karst juga mengabaikan fakta lain bahwa bahan baku utama semen adalah batu gamping dari kawasan karst.

Wahyu menyebut, berdasarkan proyeksi Asosiasi Semen Indonesia pada 2017, kapasitas mill industri semen yang ada saat ini mencapai 107.971.480 ton.

Padahal proyeksi konsumsi semen domestik hanya mencapai 65,1 juta ton. Oleh sebab itu Wahyu tidak yakin bahwa angka penyerapan tenaga kerja dengan berdirinya pabrik itu bisa mencapai 1000 orang dan tidak yakin bahwa angka permintaan semen akan cukup tinggi beberapa tahun mendatang.

Wahyu menyebut ekosistem karst alami memiliki daya serap air hingga 54 mm per-jam, sedangkan daya serap karst pada bekas tambang yang tidak direklamasi, hanya memiliki daya serap air sebesar 1 mm per-jamnya.

Rusaknya ekosistem karst akan meningkatkan ancaman krisis air, termasuk ancaman kekeringan dan banjir.

Wahyu juga menilai klaim bahwa pabrik Semen yang dibangun ramah lingkungan dan zero dust dari Kobexindo Cement dan Hongshi Holdings, tidak memiliki fakta ilmiah yang kuat.

Hal ini mengingat Industri semen merupakan penyumbang karbon terbesar dan menyebabkan pencemaran udara terbesar. Alasannya, pabrik semen akan memproduksi Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen oksida (Nox), Karbon Monoksida (CO), serta debu dan Karbon Dioksida (CO2).

“Pada sisi lain, kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, berhasil menyerap karbon organik sebesar 6,21 juta ton CO2 per tahun dan serapan karbon inorganik sebesar 0,18 juta ton CO2 per tahun,” ungkap Wahyu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kutai timur, pabrik semen

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top