Enam Investor Tertarik Masuk KEK Maloy Batuta

Pemerintah daerah juga masih merumuskan soal pembebasan sewa lahan untuk para investor.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 09 April 2019  |  19:26 WIB
Enam Investor Tertarik Masuk KEK Maloy Batuta
Ilustrasi.

Bisnis.com, SAMARINDA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mencatat ada enam perusahaan yang siap masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan, sementara masih ada investor yang lebih memilih untuk membuka industri hilirisasi minyak sawit di Kota Bontang.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Timur Irawansyah mengatakan saat ini sudah ada enam perusahaan yang mengincar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). Saat ini pemerintah daerah juga masih merumuskan soal pembebasan sewa lahan untuk para investor.

“Kami juga akan mengundang investor yang saat ini sudah ada. Cuma perlu kepastian mereka lebih lanjut kita harus sama-sama menyampaikan kepada investor untuk segera perencanaan industri apa yang dibuat di sana,” terang Irawansyah di Hotel Bumi Senyiur, Selasa (9/4/2019).

Dia menyatakan Pemkab Kutai Timur juga akan mengumpulkan semua perusahaan kelapa sawit di daerah Kutai Timur untuk mau masuk ke KEK Maloy. Total enam perusahaan itu ada yang dari luar negeri ataupun dari dalam negeri.

“Untuk permasalahan lahan air bersih nanti yang mengurus dari provinsi,” jelasnya lagi.

Di lain pihak, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kalimantan Timur Abdullah Sani menyatakan di Kawasan Industri Riil Bontang ada satu perusahaan yang siap membangun pabrik minyak goreng. Rencananya, pada Desember 2019 perusahaan itu mau mulai beroperasi. Namun ada beberapa permasalahan teknis perizinan yang belum diselesaikan. Meski demikian, Sani meyakinkan tidak ada permasalahan lahan karena perusahaan tersebut sudah memiliki kebun sawit sendiri.

“Dia sudah punya kebun, punya CPO, ini dia mau bikin industri minyak goreng. Pengolahan minyak goreng,” kata Sani.

Sani mengaku perusahaan tersebut tidak berniat masuk ke KEK Maloy. Sani memprediksi, perusahaan punya penghitungan biaya yang lebih murah dan menguntungkan jika tetap membuka pabrik di Bontang, ketimbang di KEK Maloy.

“Dia [perusahaan] lebih tahu. Untungnya di situ. Saya juga tak tahu, dia sudah dapat lokasi di situ. Investor ini biasanya lebih tahu dari kita. Kalau dia lihat peluang lebih bagus di situ, tentu ada sisi strategis lokasi dan ekonomi,” paparnya.

Sani berjanji akan mempermudah perizinan untuk perusahaan industri pengolahan kelapa sawit. Dengan demikian bisa lebih optimal pencapaian realisasi investasi di Kaltim.

Sani juga menyatakan tahun ini pihaknya ingin menargetkan lebih banyak investor masuk ke Bumi Etam membidik sektor riil.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kutai timur

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top