Membangun Kolaborasi Bisnis Radio dan Kafe

Pertumbuhan jumlah stasiun radio yang begitu pesat usai masa reformasi membuat persaingan bisnis di sektor ini begitu ketat.
MediaDigital | 27 April 2019 16:35 WIB

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Pertumbuhan jumlah stasiun radio yang begitu pesat usai masa reformasi membuat persaingan bisnis di sektor ini begitu ketat. Namun, selalu ada peluang bagi mereka yang mau berinovasi dan melihat potensi sekecil apapun.

Hal inilah yang mendasari Krishna Galih Mahendra Putra mendirikan Onix Radio di bawah bendera PT Keony Gitta Maximus. Dengan konsep bisnis yang berbeda dirinya yakin mendirikan bisnis radio hingga kemudian diganjar sebagai juara di Wirausaha Muda Mandiri tingkat regional.

Munculnya televisi membuat sejumlah pihak meyakini bahwa masa kejayaan radio akan berakhir dan tinggal menunggu waktu saja. Radio yang hanya mentransmisikan suara sementara televisi yang sudah audiovisual seolah membuat semua pihak sudah memiliki pemahaman yang sama dengan kredo ini. Nyatanya, radio masih berkembang dan eksis hingga kini.

Seiring waktu berjalan, internet pun dianggap ikut mendisrupsi berbagai sektor termasuk di antaranya radio. Pesatnya pertumbuhan internet menjadi tantangan bagi pengelola studio radio siaran untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan konten. Jika tidak, eksistensi radio akan tersisihkan oleh daya tarik media internet yang mampu menyajikan semua kebutuhan konsumen.

Bisa dibilang, khalayak saat ini hanya mendengarkan radio ketika berkendara mobil untuk mendengarkan lagu pengusir kantuk atau mendengarkan informasi lalu lintas guna menghindari kemacetan.

Namun, melihat kenyataan tersebut, tak lantas membuat Krishna surut. Dia pun menggabungkan konsep operasional radio dengan kafe sehingga ada pemasukan yang saling menutupi. Stasiun radionya pun tak terbatas hanya ada pada studio siar tetapi bisa di mana saja dan kapan saja. “Saya lalu mengolaborasi antara siaran radio dan kafe dengan menggelar talk show sambil minum kopi di kafe. Jadi sambil siaran bisa ada tambahan pendapatan dari kopi tadi,” tutur Krishna.

Konsep yang ia gagas ini kemudian mengantarkannya meraih juara dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri dan berhasil meraih gelar pada tingkat regional. Dia pun kemudian mewakili regional Kalimantan untuk bersaing dengan finalis lainnya di tingkat nasional. Meski tak mendapatkan gelar nasional, Krishna mengaku pengalaman ini cukup memberikan pengalaman baginya.

Selain kolaborasi usaha, kata Krishna, ada tema lain yang diusung pihaknya dalam menjalankan stasiun radio. Untuk menyasar segmen anak muda, Onix Radio menyiapkan beberapa program yang menginspirasi hidup keseharian mereka, contohnya seperti Apakah Kamu Tahu?. Ada juga program yang mewadahi anak muda yang ingin menyalurkan hobinya di bidang musik melalui program Onix Indie 8.

“Karena itu tagline kita Inspiring Your Life. Kalau kita ngomong tagline Radio Menginspirasi, anak muda tak mau dengar. Pasti. Kalau pakai bahasa Inggris, dia mau. Kemasan awal dulu. Kita memang radio inspirasi. Fokus kita disitu. Kita masukkan knowledge, pengetahuan. Jadi, kita pengen Onix memberi muatan baru yang belum tahu jadi tahu, yang sudah tahu jadi tambah tahu,” jelasnya.

MEMBANGUN BRANDING

Adapun hal tersulit dalam bisnis radio, kata Khrisna, adalah soal membangun brand. Dia mengaku butuh waktu tiga tahun agar Radio Onix mulai dipercaya masyarakat Balikpapan. “Masih awal – awal dulu kami pasang baliho juga untuk promosi. Kami bawa dan pasang sendiri. Kami yakin brand ini penting untuk kami,” jelasnya.

Radio Onix sendiri sudah berhasil balik modal pada tahun kelima. Bersama tim, Khrisna juga rajin melakukan riset dan merumuskan diferensiasi untuk Radio Onix dibandingkan dengan radio lain di Jakarta ataupun di Kalimantan.

Selain soal branding, kendala lain yang ia temui adalah sulitnya menemukan sumber daya manusia yang terampil dan berkualitas. Krishna menyebut jumlah pencari kerja yang tersedia cukup banyak tetapi minim pengalaman dan keterampilan. “Karena itu, ini kami jadikan peluang untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Kami tawarkan mereka mau tidak jadi penyiar, kalau mau kami bantu untuk mendapatkan skill,” katanya.

 Sebagai pegiat diskusi sejarah, dia membuat program di Radio Onix guna mengajak pendengar melek sejarah, khususnya sejarah di Balikpapan. Selain melalui Radio Onix, mulai 2012, Khrisna juga aktif menggerakan komunitas Generasi Cinta Sejarah Balikpapan.

Sampai saat ini total program yang mengudara di Radio Onix ada 12 program. Beberapa diantaranya adalah program Onix Pagi-Pagi,  Super MD, program Ten to Lunch, dan program Onix Indie 8 Manifesto setiap Minggu untuk anak Indie menyiarkan semua lagu dan musik ciptaan mereka sendiri.

“Kita konsisten dari awal 2012 tadi. Kita buat wadahnya baru itu sementara. Ada program yang sama kita rangkul juga untuk mereka kita kasih peluang. Produknya mau share silakan kita ada program Creative Edu. Radio ini saya bangun, saya ingin besarkan Balikpapan. Saya mau besarkan Balikpapan dari radio,” paparnya.

Dalam 8 tahun perjalanan membina dan mengembangkan Radio Onix, Khrisna menilai pasar pendengar radio di Balikpapan cukup baik. Hal ini terbukti dari pendengar rata-rata Radio Onix yang terdata pada 2018 melalui streaming mencapai 4 juta. Dia memprediksi pertumbuhan pendengar naik 30% seiring dengan angka kemacetan di Balikpapan yang juga meningkat. Krishna percaya selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha dan terus mencoba.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
radio

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top