Lebih dari 40 Perusahaan Kaltim Berminat 'Go Public'

Lebih dari 40 perusahaan di Kalimantan Timur di berbagai sektor berminat untuk menjadi perusahaan terbuka melalui mekanisme rencana penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO).
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 10 Juli 2019  |  15:34 WIB
Lebih dari 40 Perusahaan Kaltim Berminat 'Go Public'
Pekerja melintasi layar monitor bursa saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (16/4/2019)./ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA — Lebih dari 40 perusahaan di Kalimantan Timur di berbagai sektor berminat untuk menjadi perusahaan terbuka melalui mekanisme rencana penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO).

Kepala BEI Perwakilan Balikpapan Dinda Ayu Amalliya mengatakan, perusahaan-perusahaan tersebut sedang dalam tahap awal dan mempersiapkan diri tetapi belum sampai ke tahap memeroleh penjamin emisi.

Menurutnya, jumlah itu menunjukkan bahwa tingkat literasi emiten untuk memperoleh alternatif pendanaan sudah mulai tinggi kendati belum ada dari sektor non-mainstream yang berani untuk melakukannya.

Dia melanjutkan, dari sejumlah perusahaan yang berminat tersebut, 10 di antaranya mulai serius dan mengarah terhadap realisasi untuk melantai di bursa. Sejumlah perusahaan tersebut bergerak di sektor konstruksi, hotel, dan pengelolaan limbah. Adapun nilai kapitalisasinya dimulai dari yang terkecil senilai Rp30 miliar ke atas.

“Kami sedang melakukan penjajakan untuk mencari penjamin emisi yang membantu juga sedang menyiapkan perusahaan tersebut untuk bisa IPO. Mereka tidak lebih dari 50 perusahaan yang tertarik dan minat untuk IPO,” jelasnya Rabu (20/7/2019).

Menurutnya, saat ini tantangan utama untuk menyiapkan perusahaan untuk bisa melantai di bursa efek adalah terbatasnya penjamin emisi di daerah, terutama bagi perusahaan yang nilai penggalangan dananya masih minim. Sehingga acap kali pihaknya harus mengambil penjamin emisi dari pusat untuk mensosialisasikannya. Selain itu, masih banyak hal yang dimatangkan terkait dengan data dan anggaran dasar perusahaan.

BEI lanjut dia juga mengajak perusahaan yang tertarik tetapi belum paham dengan mekanisme go public untuk melakukan sosialisasi secara personal.

“Datanya perusahaan karena mungkin awalnya belum kenal IPO mau menyiapkan laporan, anggaran dasar perusahaan dari PT lalu terbuka. Kalau jadi IPO, otomatis perusahaan bisa punya pendanaan tanpa batas,” imbuhnya.

Oleh karenanya dengan sejumlah tantangan itu, nampaknya tingginya minat perusahaan untuk IPO belum bisa direalisasikan tahun ini ataupun berkontriusi terhadap target yang telah ditetapkan pusat sebanyak 75 perusahaan terbuka pada tahun ini. Tindak lanjut secara nyata atas aksi ini kemungkinan baru bisa dilihat pada tahun depan.

Dari sisi jumlah investor pasar modal, saat ini Kaltim merupakan yang terbesar di pulau Borneo. Tahun lalu jumlah investor di provinsi ini mencapai 4.200 dan bila digabungkan dengan Kalimantan Utara (Kaltara) sebesar. Secara total hingga Mei tahun ini jumlah investor naik sekitar 2.000 menjadi 14.000 investor. Dibandingkan dengan pada 2018 dan 2017 masing-masing di kisaran 12.000 dan 8.000.

BEI pun diperkirakan menyambut kedatangan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) bernilai jumbo pada semester pertama tahun depan.

Berdasarkan catatan Bisnis per 8 Juli lalu ada 24 emiten yang melakukan aksi IPO dengan nilai total kapitalisasi Rp3,66 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalimantan timur

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup