Disdag Kalsel Kesulitan Turunkan Harga Cabai & Gula Pasir

Jelang Idul Adha, Dinas Perdagangan (Disdag) Kalsel mengaku sulit menurunkan dua komoditas sembako yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Banua. Dua komoditas tersebut yakni cabai rawit merah dan gula pasir.
Arief Rahman
Arief Rahman - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  17:12 WIB

Bisnis.com, BANJARMASIN- Jelang Idul Adha, Dinas Perdagangan (Disdag) Kalsel mengaku sulit menurunkan dua komoditas sembako yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Banua. Dua komoditas tersebut yakni cabai rawit merah dan gula pasir.

Kepala Disdag Kalsel Bierhasani mengatakan, untuk cabai rawit merah saat ini harganya dipasaran masih berkisar Rp70.000 - Rp90.000 perkilonya. Padahal biasanya harga tertinggi Cabai Rawit Merah hanya berkisar Rp60.000 perkilonya.

"Kenaikan ini dipicu oleh kurangnya pasokan dari daerah penghasil. Sementara pengembangan cabai lokal pada beberapa daerah di Provinsi Kalsel produksinya masih belum mampu memenuhi kebutuhan lokal," ungkapnya, Kamis (01/08/2019).

Lalu untuk Kebutuhan Pokok jenis Gula juga saat ini harganya tembus hingga diangka Rp12.500 - Rp13.000 perkilonya. Harga tersebut jauh lebih tinggi dari pada harga normal yang biasanya dibandrol Rp11.000 - Rp12.000 perkilonya.

"Kenaikan Gula Pasir sendiri memang bukan karena masalah kurangnya stok, tapi lebih disebabkan karena sudah tingginya harga beli dipetani akibat rencana pemerintah yang ingin menaikkan Harga Biaya Pokok Produksi (BPP) gula," katanya.

Sulitnya Disdag Kalsel menurunkan harga pada dua komoditas sembako ini dikarenakan suplainya yang sebagian besar dipasok oleh daerah Jawa. Bahkan untuk gula pasir hampir 100 persen dipasok dari Pulau Jawa hingga Sulawesi.

"Walau tidak bisa berbuat banyak, kami sudah melakukan koordinasi dengan beberapa distributornya di Kalsel. Sejauh ini mereka sedang mengusahakan agar pasokannya bisa ditambah supaya harganya dipasaran dapat berangsur turun," ujarnya.

Terkait komoditas beras lokal yang diklaim Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Provinsi Kalsel menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi yang cukup besar selama tiga bulan terakhir.

Disdag Kalsel juga sudah melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk dapat mendorong harganya bisa segera turun dipasaran.

"Yang naik itu kan cuma beras lokal jenis unus mutiara yang kini harganya tembus diangka Rp13.750 - Rp15.000 perkilo. Tapi kita pastikan harga ini akan berangsur turun sebulan kedepan seiring dengan sudah mulai panennya beras lokal di beberapa daerah penghasil di Provinsi Kalsel," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kalimantan Selatan, harga cabai

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top