Pegadaian Syariah Perlu Pacu Sosialisasi Guna Perdalam Pasar

Pangsa pasar pegadaian Syariah masih lebih rendah dibandingkan dengan pegadaian konvensional.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 03 September 2019  |  20:16 WIB
Pegadaian Syariah Perlu Pacu Sosialisasi Guna Perdalam Pasar
Ilustrasi. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, BALIKPAPAN— Pangsa pasar pegadaian Syariah masih lebih rendah dibandingkan dengan pegadaian konvensional.

Senior Manager Unit Usaha Syariah PT Pegadaian (Persero), Hendratmo mengatakan, sebgaia perbandingannya, pendapatan di unit syariah kami tahun lalu hanya mencapai Rp9 triliun. Padahal pegadaian konvensional mencapai Rp60 triliun.

Menurutnya gap yang masih besar ini lantaran kurang gencarnya sosialisasi dari pelaku dan regulator, serta pola pikir ataupun persepsi masyarakat terhadap produk syariah yang terkesan masih lebih mahal.

“Konvensional mereka menawarkan lebih murah. Semisal saja, KPR, syariah biasanya uang mukanya besar, sedangkan konvensional berani menerima uang muka yang lebih rendah,” jelasnya, Selasa (3/9/2019).

Untuk itu, dalam mengembangkan keuangan syariah, lanjut dia, baik regulator maupun pelaku industri keuangan syariah harus mampu memberikan informasi dan menjelaskan kepada masyarakat terkait dengan keuangan syariah.

Dia menyebutkan pulau Jawa, Sulawesi Selatan serta Sumatera Selatan lebih baik dari sisi pemahaman produk syariah Pegadaian dibandingkan dengan Kalimantan.

Padahal secara potensi, ungkap dia, produk syariah ini lebih besar, mengingat mayoritas masyarakat Kaltim atau Indonesia beragama Islam.

Saat ini produk Pegadaian syariah terdiri atas Arrum Haji, pembiayaan kendaraan bermotor, gadai sertifikat tanah, mikro pembiayaan, dan tabungan emas. Pangsa tertinggi masih dari produk Amanah (pembiayaan kendaraan bermotor). Pangsanya sekitar 30 persen.

“Di sini kami yang kurang. Sosialisasi kami tidak begitu gencar seperti produk konvensional. Dana kami terbatas. Selain itu, dari sisi kemajuan teknologi, produk syariah ini masih kalah. Pangsanya juga minim,” tekannya.

Adapun berdasarkan hasil survei literasi 2016 yang dilakukan OJK, indeks literasi keuangan syariah baru 8,11 persen. Artinya, setiap 100 orang baru delapan orang yang memahami sektor jasa keuangan syariah.

Sedangkan tingkat inklusi atau masyarakat yang menggunakan keuangan syariah untuk pendanaan baru 11,06 persen. Artinya dari 100 masyarakat Indonesia hanya 11 orang yang menggunakan transaksi keuangan di sektor keuangan syariah. Sementara sektor pasar modal syariah indeks litetasinya hanya 0,02 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
balikpapan, pegadaian

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top