HBA Belum Bergerak Positif, Pengusaha Tambang Kencangkan Ikat Pinggang

Produksi batu bara yang diprediksi membaik hingga tahun ini belum diikuti dengan harga batu bara acuan (HBA) yang bergerak positif.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  20:44 WIB
HBA Belum Bergerak Positif, Pengusaha Tambang Kencangkan Ikat Pinggang
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur. - Antara/Irwansyah Putra

Bisnis.com, BALIKPAPAN – Produksi batu bara yang diprediksi membaik hingga tahun ini belum diikuti dengan harga batu bara acuan (HBA) yang bergerak positif.

Hal ini membuat pengusaha pertambangan di Kalimantan Timur telah melakukan sejumlah efisiensi dan mengencangkan ikat pinggang.

Komite Tetap Pegembangan Energi Batu Bara Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Kaltim Nazarudin mengatakan saat ini regulasi yang ada tidak berimbang karena pembatasan Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Dia pun mengharapkan Gubernur bisa memberikan ruang bagi perusahaan tambang. Menurutnya, pembatasan izin IUP boleh saja dilakukan tetapi harus jelas bahwa perizinan dan peraturan yang diterbitkan mampu menggerakan roda ekonomi Kaltim.

“Paling tidak, kebijakan yang dibuat berimbang juga ke pengusaha. Apalagi konsumsi domestik dalam negeri juga belum maksimal dari masalah pembayaran dan harga, lokal masih belum seksi dimata pengusaha,”jelasnya Selasa (8/20/2019)

Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan konsumsi domestik batu bara supaya turunnya HBA tidak terlalu berdampak.

“Yang penting harga-nya masuk akal bagi pengusaha, dan kalau terjadi penurunan harga acuan batu bara tidak terlalu berdampak,” ungkapnya.

Dia memprediksikan harga batu bara masih akan bertahan di level US$60 per ton hingga akhir tahun ini. Meskipun ada kenaikan atau perubahan harga, hal itu tidak akan signifikan.

Pergerakan HBA Oktober di level US$ 64,8 per metrik ton dibandingkan dengan HBA bulan lalu yang masih di kisaran US$ 65,79 per metrik ton.

Penurunan HBA disebabkan adanya sentimen negatif terhadap pasar batubara. Pemicunya, isu kuota impor China serta penurunan permintaan di Eropa dan Asia Timur yang disebabkan kenaikan penggunaan LNG, nuklir dan energi terbarukan. Selain itu, 75 persen komponen pembentuk HBA turun setidaknya 2 persen.

Kaltim saat ini memiliki luas lahan tambang sebesar 5,2 juta hektare. Dari luas tersebut, pada 2017 sebanyak 1.143 IUP diterbitkan di Kaltim.

Kabupaten Kutai paling banyak menerbitkan IUP pada 2017 yaitu 625 IUP. Sedangkan, Produksi batubara di Kutai Kartanegara pada 2017 mencapai 86,98 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertambangan, batu bara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top