BI Sulut Tarik Uang Lusuh Rp617,91 Juta dari Batas Utara NKRI

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara menarik Rp617,91 juta uang lusuh atau tidak layak edar lewat program layanan kas kepulauan ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  17:11 WIB
BI Sulut Tarik Uang Lusuh Rp617,91 Juta dari Batas Utara NKRI
Suasana penukaran uang lusuh oleh tim Kas Keliling Bank Indonesia di Pulau Marampit, Jumat (11/10/2019). JIBI/Bisnis - M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, MANADO— Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara menarik Rp617,91 juta uang lusuh atau tidak layak edar lewat program layanan kas kepulauan ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil.

Kantor Perwakilian Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) telah menyelesaikan program layanan kas kepulauan wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) yang berlangsung mulai dari 8 Oktober 2019—16 Oktober 2019. Dalam kegiatan itu, bank sentral mendapat dukungan dari tentara nasional Indonesia (TNI) angkatan laut (AL).

Dengan menggunakan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Sultan Nuku, rombongan BI Sulut dan TNI AL berkeliling selama sembilan hari menjelajahi secara berturut-turut Pulau Salibabu, Pulau Kakorotan, Pulaut Marampit, Pulau Marore, Pulau Miangas, Pulau Kawaluso, dan Pulau Kalama yang tersebar di Kabupaten Kepulauan Talaud dan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Dalam program tersebut, BI Sulut yang juga mendapat dukungan dari BI Gorontalo dan Pusat untuk melakukan serangkaian kegiatan mulai dari penukaran uang rupiah, sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah dan kebanksentralan, penyerahan bantuan program sosial Bank Indonesia, serta layanan kesehatan gratis yang bekerja sama dengan tim Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) VIII Manado.

Dari kegiatan tersebut, BI Sulut menarik uang rupiah lusuh atau tidak layak edar dan pecahan logam dengan total senilai Rp617,91 juta. Hasil penukaran terbanyak yakni pecahan Rp100.000 dengan total Rp564,10 juta, disusul Rp50.000 senilai Rp21,95 juta, dan Rp2.000 senilai Rp11,36 juta.

Kepala Unit Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Suwandy mengklaim secara keseluruhan kegiatan berjalan lancar. Artinya, program tersebut sesuai dengan tujuan yang dicanangkan.

“Sukses karena kami berhasil menyerap uang yang lusuh dari masyarakat baik kertas maupun logam,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (17/10/2019).

Suwandy membeberkan terdapat sejumlah kendala yang harus dihadapi oleh tim. Salah satunya jaringan telekomunikasi yang terbatas di beberapa titik.

“Masalah jaringan untuk koordinasi dengan person in charge [PIC] di kepulauan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan bahwa bank sentral memiliki kewajiban untuk mengedarkan dan menyalurkan uang dengan kondisi baik dalam jumlah yang cukup. Program itu juga sejalan dengan program dari departemen pengelolaan uang rupiah di bank sentral.

Dengan adanya program itu, masyarakat diharapkan dapat memegang uang rupiah dalam kondisi baik. Memegang uang baru diyakini berdampak positif terhadap psikologis masyarakat.

“Masyarakat bisa menukarkan uang yang lusuh selain itu kami juga melakukan sosialiasi ciri-ciri keaslian uang rupiah,” jelasnya.

Keaslian uang rupiah, lanjut dia, sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat. Pasalnya, mereka akan dirugikan apabila menerima uang palsu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Rupiah, sulut

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top