Inflasi Kaltim Terkendali di 2023, TPID Terus Berupaya Jaga Stabilitas Harga

Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berhasil menjaga inflasi di level 3,46% sepanjang tahun 2023.
Ilustrasi inflasi atau kenaikan harga bahan-bahan pokok. Pelanggan memilih barang kebutuhan di salah satu ritel modern di Depok, Jawa Barat, Minggu (30/7/2023). JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha
Ilustrasi inflasi atau kenaikan harga bahan-bahan pokok. Pelanggan memilih barang kebutuhan di salah satu ritel modern di Depok, Jawa Barat, Minggu (30/7/2023). JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, SAMARINDA –– Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berhasil menjaga inflasi di level 3,46% sepanjang tahun 2023, yang berada dalam rentang target inflasi nasional dan lebih rendah dari inflasi tahun 2022 yang mencapai 5,35%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Budi Widihartanto menyatakan inflasi Kaltim dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kenaikan harga bahan makanan, terutama cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, dan beras.

Komoditas-komoditas ini sebagian besar didatangkan dari luar Kaltim, sehingga rentan terhadap gangguan pasokan dan distribusi.

“Andil tertinggi inflasi di Kaltim di 2023 bersumber dari inflasi bahan makanan (volatile food) terutama komoditas cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah dan beras yang keberadaannya diperoleh dari luar wilayah Kaltim yang saat ini secara nasional juga sedang mengalami tekanan harga karena faktor perubahan iklim dan ketersediaannya yang terbatas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (3/1/2024).

Selain bahan makanan, inflasi Kaltim juga dipicu oleh kenaikan harga transportasi, terutama angkutan udara dan emas perhiasan.

Hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat Kaltim, yang didorong oleh pertumbuhan penduduk, pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), dan perkembangan sektor industri, transportasi, dan pergudangan.

Namun, Budi juga menegaskan bahwa inflasi Kaltim masih terkendali dan tidak mengganggu stabilitas makroekonomi.

Dia menambahkan bahwa ada beberapa komoditas yang memberikan kontribusi deflasi, seperti udang basah, bayam, kangkung, buncis, dan celana panjang jeans anak. Deflasi ini menunjukkan adanya penyesuaian harga pasar dan efisiensi produksi.

Untuk mengendalikan inflasi, Budi menuturkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-Kaltim terus melakukan berbagai upaya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, penambahan pasokan beras oleh Bulog, dan rapat koordinasi rutin. Pada akhir Desember 2023, TPID Kaltim juga menggelar rapat tingkat tinggi di Balikpapan untuk membahas antisipasi kenaikan harga komoditas pada periode Nataru.

Budi berharap bahwa dengan upaya-upaya tersebut, inflasi Kaltim dapat tetap terjaga di tahun 2024. Ia juga mengajak semua pihak untuk bersinergi dalam menjalankan strategi 4K (keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif) guna mengendalikan inflasi.

“Melalui inflasi yang terkendali diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur menuju Masyarakat yang lebih sejahtera,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler