Udang Windu Kaltim Jadi Barometer Dunia

Oleh: Fariz Fadillah 13 April 2018 | 20:37 WIB
Ilustrasi/JIBI

Bisnis.com, BALIKPAPAN- Kaltim dipandang Kementerian Perdagangan Republik Indonesia memiliki potensi besar di sektor kelautan dan perikanan, salah satunya udang windu.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri yang diwakili Kasubid Fasilitas Sarana dan Prasarana Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, Ringgo mengatakan potensi besar ini dapat menjadi alternatif penopang perekonomian Kaltim.

"Ekspor komoditi udang windu Kaltim yang mencapai 150 ton per bulan, saat ini menjadi barometer harga udang dunia," jelasnya, Jumat (13/4).

Dia mengatakan udang windu Kaltim tidak dibudidayakan dengan treatmen tertentu, tetap natural, menjadi nilai lebih di mata pengimpor saat ini, yakni Jepang.

Selain itu udang beku juga merupakan komoditas ekspor terbesar Kaltim dengan dengan nilai US$ 185 juta dan negara tujuan Amerika, Singapora, Malaysia, Hongkong serta negara-negara Eropa dan Asia.

Belum lama ini PT Syam Surya Mandiri, selaku produsen udang tersebut diganjar penghargaan dari Gubernur Kaltim Awang Faroek juga dari Internasional Stars for Quality, sebuah lembaga sertifikasi kualitas udang dari Swiss. Penghargaan diserahkan oleh Gubernur dan diterima Direktur Utama PT Syam Surya Mandiri Mangkana, belum lama ini.

Adapun ekspor Kaltim saat ini sudah menyentuh US$ 27,83 juta pada 2016. Memasuki 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, nilai ekspor Bumi Etam pada Februari mengalami penurunan 3,5 persen jika dibandingkan Januari. Sedangkan nilai Impor Februari terjadi peningkatan sebesar 8,94 persen dibanding dengan impor Januari 2018.

Ekspor Kaltim pada Februari senilai USD 1,42 miliar. Jumlah itu menurun dibandingkan Januari 2018 senilai USD 1,48 miliar. Sedangkan impor Kaltim pada Februari 2018 mencapai USD 0,35 miliar atau meningkat 8,94 persen.

“Penurunan ekspor Februari 2018 disebabkan oleh turunnya ekspor barang migas dan barang non migas,” tutur Kepala BPS Kaltim Atqo Mardiyanto dalam keterangan resmi belum lama ini.

Namun komoditi pertambangan masih mendominasi komoditi utama ekspor mencapai 88,81%.

Disusul hasil pertanian dan perkebunan 4,54%, hasil industri kimia 3,57% dan hasil kayu olahan 2,08%. Kemudian hasil industri logam 0,10% dan hasil perikanan dan kelautan 0,31%.

Melalui international direct call peningkatan komoditi ekspor di luar pertambangan dan migas tengah diupayakan pemerintah.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, dan Koperasi Kaltim Fuad Assadin mengatakan pelayaran Internasional Direct Call, memberikan keuntungan tiga hal pada eksportir.

"Pertama biaya yang lebih ekonomis, waktu pelayaran yang lebih pendek, dan waktu kepastian pelayaran, bahkan kemudahan bertransaksi. Dengan tidak adanya biaya-biaya bongkar pemindahan barang, dari kargo antar pulau ke kargo export di Surabaya, Jakarta, dan atau Singapore, maka biaya operasional lebih sedikit," terang dia kepada Bisnis, Jumat (13/4).

Kemudian karena dari Balikpapan - langsung ke Negara tujuan, tanpa ada waktu waktu bersinggah di beberapa pelabuhan seperti Surabaya, Jakarta dan Belawan Singapore waktu tempuh menjadi berkurang, dari 30 hari menjadi hanya 9 hari.

"Dengan Pelayaran Internasional Direct Call, maka ketersediaan kapal dan jadwal pengangkut bagi eksportir tersedia, seperti di Kariangau Balikpapan ini, akan dilakukan setiap 1kali seminggu,

Sejauh ini dia mengatakan hasil komoditi yang diekspor di Kariangau tidak hanya dari Kaltim tetapi produk-produk dari daerah Indonesia Timur, utamanya selain Kaltim, yaitu Kaltara, Kalsel, Palu, Sulawesi Barat, dan beberapa daerah lainnya di Pulau Sulawesi.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya