Masyarakat Kalsel Cegah Kebakaran Lahan Gambut

Oleh: Nurudin Abdullah 28 April 2018 | 23:23 WIB
Masyarakat Kalsel Cegah Kebakaran Lahan Gambut
Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead, Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, dan Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bambang Hendroyono (dari kiri ke kanan) berpegang tangan seusai meresmikan pembukaan Jambore Masyarakat Gambut 2018, di Kiram Park, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Sabtu (28/4/2018)./JIBI - Nurudin Abdullah

Bisnis.com, BANJAR KALSEL-Gerakan mencegah terjadinya kebakaran lahan gambut harus terus dilakukan karena dampak yang ditimbulkan sangat merugikan masyarakat dari aspek kesehatan, sosial dan ekonomi.

Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, mengatakan masyarakat sudah merasakan sendiri dampak buruk dari kebakaran gambut sehingga upaya untuk mencegah terus dilakukan oleh seluruh stake holder yang terlibat.

“Kebakaran gambut menimbulkan asap yang membuat kesehatan masyarakat terganggu, aktivitas mereka sehari-hari juga terganggu, bahkan jadwal penerbangan pesawat juga terganggu,” katanya, Sabtu (28/4/2018).

Dia menyampaikan hal itu seusai mendampingi Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Bambang Hendroyono, mewakili Menteri LHK Siti Nurbaya meresmikan Jambore Masyarakat Gambut 2018, di Kiram Park, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalsel pada 28-30 April 2018.

Jambore diselenggarakan oleh Badan Restorasi Gambut dan Pemprov Kalses diikuti sebanyak 2.000 peserta utusan dari 265 desa/kelurahan peduli gambut asal Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan tuan rumah Kalsel.

Sahbirin mengapresiasi penyelenggaraan Jambore di Kalsel yang akan mendorong semangat masyarakat setempat untuk lebih optimal dalam mengelola gambut yang sudah menjadi budaya sejak lama, dengan mencegah jangan sampai terbakar.

Sementara itu Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead, mengatakan Jambore Masyarakat Gambut 2018 merupakan forum pertukaran pengalaman, pengetahuan dan penguatan jejaring bagi masyarakat luas, khususnya petani gambut.

“Peserta Jambore itu berasal dari 265 desa dan kelurahan yang tergabung dalam Desa Peduli Gambut dan desa atau kelurahan lain yang ada di dalam ekosistem gambut di 7 provinsi,” ujarnya.

Menurutnya, peserta dapat mengikuti berbagai kegiatan selama Jambore antara lain kelas pelatihan singkat yang terkait dengan pertanian terpadu dan alami dilingkungan gambut.

Sedangkan Sekjen KLHK Bambang Hendroyono, mengatakan langkah strategis yang dilakukan Badan Restorasi Gambut dan Pemprov Kalsel serta stakeholder terkait sangat penting dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam upaya penyelamatan lahan gambut.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya