Sektor Logistik Kaltim Perlu Ditunjang Infrastruktur dan Gudang

Pelaku usaha sektor logistik di Kalimantan Timur mengimbau pemerintah tingkat kota dan provinsi untuk memperbaiki akses transportasi dan pergudangan guna memacu bisnis sektor ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 18 Januari 2019 13:28 WIB
Foto udara Sungai Mahakam di Kalimantan Timur, Kamis (20/12/2018). Sungai terbesar di Kalimantan Timur dengan panjang mencapai 920 kilometer tersebut berfungsi sebagai sumber air, potensi perikanan air tawar serta sebagai prasarana transportasi kegiatan masyarakat dan lalu lintas pertambangan. - Antara/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, BALIKPAPAN – Pelaku usaha sektor logistik di Kalimantan Timur mengimbau pemerintah tingkat kota dan provinsi untuk memperbaiki akses transportasi dan pergudangan guna memacu bisnis sektor ini.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kalimantan Timur Faisal Tola mengatakan biaya logistik di Balikpapan dan sekitarnya sebenarnya tidak terlalu tinggi. Namun, kerap terkendala kawasan gudang dari pelabuhan yang bisa mencapai 26 kilometer.

“Moda transportasi yang masuk ke sini sudah banyak, namun yang keluar masih sedikit. Ada yang masuk dari Surabaya, Sulawesi Selatan, ada 80% barang kebutuhan pokok, sisanya barang industri, migas, atau pertambangan,” jelas Faisal kepada Bisnis, Rabu (18/1/2019).

Dengan barang yang diangkut termasuk golongan barang pokok, Faisal menilai biaya yang bisa diefisiensikan adalah biaya transportasi laut dan utamanya di darat, yakni perjalanan menuju gudang. Adapun gudang berjarak 26 kilometer dari pelabuhan itu masuk dalam golongan jalur terjauh dengan biaya transportasi yang paling mahal.

“Pelabuhan kami ini sudah direct call, terbuka sekali, tidak ada feeder shipment, kapal besar masuk. Jadi tidak mengandalkan tol laut. Hanya saja perlu perbaikan infrastruktur di beberapa titik jalan yang merupakan kewenangan pemerintah pusat, juga pemerintah kota,” sambungnya.

Dia mengambil contoh, salah satunya adalah di Kilometer 5, adalah titik rawan macet menuju kawasan pergudangan. Kondisi kemacetan ini yang kerap menyebabkan biaya logistik menjadi mahal.

Faisal mengusulkan pemerintah kota perlu mempertimbangkan tata ruang yang menyediakan kawasan pergudangan. Adapun kawasan pergudangan itu tidak perlu masuk dalam area kota Balikpapan yang sudah cenderung padar.

“Kawasan pergudangan tidak perlu masuk di area pusat kota. pemerintah kota bisa membangun infrastruktur kawasan industri misalnya di Kariangau, untuk juga pergudangan. Digabung saja,” katanya.

Menurut Faisal, pengembangan gudang itulah yang nantinya bisa mendorong pengembangan kota satelit di bagian atas kota Balikpapan. Dengan demikian pertumbuhan kota bisa lebih tersebar.

Faisal berharap juga dengan pembangunan infrastruktur tol Balikpapan-Samarinda, bisa semakin memudahkan jalur logistik, serta memperkuat Balikpapan sebagai pintu masuk Kalimantan Timur.

Ketua DPC Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kota Samarinda Muhammad Gobel sejauh ini iklim usaha logistik di kawasan Samarinda dan sekitarnya masih cukup sehat.

Beberapa kendala lain bagi pelaku usaha logistik di Samarinda adalah suplai bahan bakar minyak (BBM) yang kerap terlambat.

“Hanya saja untuk keluar kota Samarinda, kami masih sering terkendala dengan bahan bakar yang kadang terlambat suplainya. Sehingga untuk transportasi keluar kota jadi lebih lama,” ujar Gobel kepada Bisnis.

Tag : kaltim, logistik, alfi
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top