Banjarbaru Dipilih Sebagai Kota Pertama Uji Petik Ekonomi Kreatif

Banjarbaru, Kalimantan Selatan menjadi kota pertama dari 52 kabupaten/kota di Indonesia yang terpilih untuk menentukan subsektor ekonomi kreatif pertamanya dalam program Uji Petik PMK3I.
Yanuarius Viodeogo | 16 Maret 2019 13:50 WIB
Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru. - angkasapura

Bisnis.com, JAKARTA -- Banjarbaru, Kalimantan Selatan menjadi kota pertama dari 52 kabupaten/kota di Indonesia yang terpilih untuk menentukan subsektor ekonomi kreatif pertamanya dalam program Uji Petik PMK3I. 

Uji Petik PMK3I adalah Program Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia diterapkan sejak 2017-2018 melalui proses wawancara mendalam oleh tim asesor bentukan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terdiri dari Pemda, Komunitas Kreatif, Akademisi dan Pebisnis di daerah tersebut. 

Dari siaran pers Bekraf, ada 3 subsektor ekonomi kreatif yang dipertimbangkan PMK3I untuk dipilih menjadi sektor unggulan dari Kota Banjarbaru yaitu kuliner, kriya dan fesyen. 

Hasil uji petik itu diumumkan oleh Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhaniserta dan Wakil Walikota Banjarbaru Darmawan Jaya bersama tim PMK3I. 

Adapun subsektor kuliner pada saat uji petik itu terdiri dari coklat ABBA dan kampung pejabat (pengolah, penjual jamu loktabat).

Keterlibatan tenaga kerja untuk coklat ABBA mencapai 6 karyawan, sementara kuliner jamu dan kampung pejabar ada 35 pengusaha jamu. 

Dari peredaran uang coklat ABBA, hasil penelusuran tim uji petik mencapai Rp360 juta per tahun, dan kuliner jamu kampung pejabat mencapai Rp500 juta per tahun. 

Sementara itu dari subsektor kriya, ada 15 pelaku usaha kriya sasirangan bordir dan 4 kelompok usaha kriya purun dengan jumlah dan variasi produksi beragam dipasarkan di dalam negeri. 

Hasil analisa dinamika pelaku subsektor itu sejak 1994-2016, ada 450 orang bekerja di kriya sasirangan bordir dan 60 orang di kriya purun.

Uang yang bereda mencapai Rp15 miliar per tahun di kriya sasirangan bordir dan Rp144 miliar di kriya purun. 

Terakhir subsektor fesyen, mencakup diyan ginjut, cempaka sasirangan dan DNF sasirangan dengan jumlah dan variasi produksi terdiri dari pengembangan kain sasirangan bordir dipasarkan secara nasional. 

Dalam sektor ini terlibat 200 orang pekerja dengan peredaran uang mencapai Rp200 juta per tahun.

Seluruh dari subsektor kuliner, kriya dan fesyen Banjarbaru tersebut akan dikembangkan sub sektor selanjutnya yaitu fotografi, desain komunikasi visual dan seni pertunjukan.

Tag : ekonomi kreatif, kalsel
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top