Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Gula Tebu di Banjarmasin Naik Terimbas Isu HPP

Harga gula putih di Banua naik menjelang Ramadan sekaligus terimbas sentimen rencana kenaikan harga patokan petani.
Arief Rahman
Arief Rahman - Bisnis.com 30 April 2019  |  14:59 WIB
Pedagang gula sedang mengemasi gula putih untuk dijual eceran ke konsumen. - Bisnis/Arief Rahman
Pedagang gula sedang mengemasi gula putih untuk dijual eceran ke konsumen. - Bisnis/Arief Rahman

Bisnis.com, BANJARMASIN – Harga gula putih di Banua naik menjelang Ramadan sekaligus terimbas sentimen rencana kenaikan harga patokan petani.

Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalsel H Aftahuddin mengatakan kenaikan harga gula jelang Ramadan sendiri akibat dari rencana pemerintah yang ingin menaikkan harga patokan petani (HPP) gula kristal putih ditingkatan petani tebu.

"Sekarang harga gula di pasaran untuk di tingkat distributor sudah mencapai Rp12.400 perkilogram, sedangkan untuk eceran malah sudah tembus diangka Rp13.000 perkilogram. Naiknya harga gula sendiri karena adanya isu kenaikan HPP oleh pemerintah," tegasnya, Selasa (30/04/2019).

Bagi H Aftah sapaan akrabnya, harga gula saat ini boleh dibilang cukup mahal. Karena standarnya harga gula yang dijual ke masyarakat biasanya hanya Rp12.000 perkilogram.

"Tahun ini harga gula lebih tinggi dibanding jelang Ramadan tahun lalu. Padahal jelang Ramadan gula sangat dibutuhkan oleh masyarakat maupun pelaku usaha kue musiman," tambahnya.

Terkait stoknya sendiri, H Aftah mengaku ditingkatan distributor saat ini masih dikisaran 4.000 ton. Jumlah tersebut sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk 15 hari ke depan.

"Stok tersebut adalah stok berjalan, artinya terus kita tambah dari Jakarta dan Jawa Timur melalui jalur laut. Kalau stok boleh dibilang mencukupi, namun untuk harga memang sulit kita tekan," tuturnya.

Sementara itu, Noor Rahmatika, pelaku bisnis kue kering di Banjarmasin mengaku cukup dirugikan dengan adanya kenaikan harga gula dipasaran. Padahal keperluannya terhadap gula jelang Ramadan sangatlah besar sebagai bahan baku utama untuk membuat aneka kue kering.

Ia pun mengaku terpaksa tetap membeli gula walaupun harganya lebih tinggi dari biasanya. Risikonya ia harus mengurangi margin keuntungan, karena tidak bisa serta merta menaikkan harga jual kue keringnya.

"Kalau menaikkan harga jual di kondisi ekonomi yang serba sulit sekarang, tentunya bisa membuat pelanggan kabur. Jadi lebih baik mengalah dengan mengurangi margin keuntungan saja," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga gula
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top