Cara Pemprov Kaltim Kendalikan Deforestasi dari Dana Bio Carbon

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen menjaga hutan dan menekan laju degradasi dan deforestasi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 10 Mei 2019  |  09:36 WIB
Cara Pemprov Kaltim Kendalikan Deforestasi dari Dana Bio Carbon
Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor - Bisnis.com/Gloria FK Lawi

Bisnis.com, SAMARINDA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen menjaga hutan dan menekan laju degradasi dan deforestasi. 


Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor menyatakan, pembangunan harus tetap jalan tetapi ekosistem dan ekologis hutan dan alam juga harus dijaga. 


"Bukan hanya untuk kita yang hidup saat sekarang melainkan alam lestari yang harus kita wariskan untuk anak cucu,” Isran melalui siaran pers, Kamis (9/5/2019).
 
Asal tahu saja, Provinsi Kalimantan Timur bersama Provinsi Jambi tercatat menerima program Bio Carbon Fund yakni program Bank Dunia untuk menurunkan emisi sebesar 2% dengan pelestarian hutan. 


Adapun dana tersebut dianggarkan sebesar US$100 miliar sampai dengan 2030. Dengan dana tersebut Provinsi Kaltim dan Jambi bisa mempercepat program rehabilitas hutan dan upaya menghidupkan perekonomian masyarakat di kawasan hutan.


Dalam pertemuan Satuan Gugus Tugas Gubernur untuk Hutan dan Perubahan Iklim atau Governors Task Force on Climate and Forest (GCF) di Kota Florencia, Propinsi Caqueta, Kolombia, 30 April-3 Mei 2019 lalu, Isran berharap agar Kaltim bisa segera mendapatkan manfaat dari dana bio carbon.


“Jadi bahwa segera mempercepat dana bantuan karbon oleh Bank Dunia. Itu saja, jadi teknisnya saja,” paparnya kepada awak media sebelum berangkat ke Florencia kala itu.


The GCF Task Force merupakan gugus tugas pemerintah provinsi atau negara bagian terkait hutan dan perubahan iklim terbesar. GCF beranggotakan 38 negara bagian di 10 negara yang berasal Amerika, Amerika Tengah-Selatan, Asia, Eropa, dan Afrika dan menguasai sepertiga dari hutan tropis dunia.


Pertemuan tahunan GCF merupakan sarana memperkuat dan mempercepat pencapaian tujuan bersama menekan laju kerusakan hutan, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mempromosikan pembangunan yang adil, berkelanjutan. Caranya melalui kemitraan dengan masyarakat adat, mitra pembangunan dan dunia usaha.


Adapun FGD ini membahas solusi kerusakan hutan di wilayah Amazon melalui pendekatan “Pembangunan berbasis Perikanan, Sebuah Strategi pembangunan Rendah Emisi di Lembah Amazon”.


Seperti diketahui, dalam kasus di wilayah Amazon, kerusakan hutan utamanya disebabkan oleh pembukaan lahan untuk membangun peternakan sapi sebagai sumber protein hewani baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.


Sektor perikanan merupakan penunjang kehidupan di wilayah Amazon selama ribuan tahun. Perikanan bukan hanya masa lalu, namun ia merupakan masa depan ekonomi wilayah Amazon. Terutama sebagai pengganti sumber protein daging sapi. Perikanan tidak memerlukan pembukaan hutan, malah memerlukan keberadaan hutan agar fungsi ekosistem sungai dan perikanan masih tetap berlanjut.


Kondisi ini sama halnya dengan kondisi geografis Kaltim dengan Sungai Mahakam yang panjangnya hampir 1000 kilometer. Merupakan aset ekonomi penting sektor perikanan bagi Kalimantan Timur.


Keseimbangan lingkungan dengan pelestarian hutan dalam menjaga fungsi ekosistem sungai diharapkan dikembangkan di kawasan Sungai Mahakam di Kaltim.


“Bila hutan dijaga maka sungai akan terus menopang aneka jasa lingkungan bagi Kaltim melalui perikanan air tawar, eko wisata, dan sebagainya. Dengan demikian ekonomi terus tumbuh berkembang namun kelestarian hutan terjaga,” ujar Isran.


Rapat tahunan yang dibuka Gubernur Provinsi Caqueta Alvaro Pacheco Alvares itu menghasilkan sejumlah kesepakatan antara lain proses dan jangka waktu untuk seleksi dan penerimaan anggota baru GCF diperpendek dari satu tahun menjadi hanya 6 bulan. 


Kesepakatan lainnya melanjutkan keberadaan kelembagaan Executive Committee. Disepakati pula persetujuan pemberian status keanggotaan tetap (two at large) untuk Negara Bagian California, karena komitmen, inovasi dan kontribusi mereka selama ini kepada upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di California maupun global. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim, deforestasi

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top