Kisah Sosok Nenek Misterius di Balik Pembangunan Masjid Tertua di Kaltim

Ada kisah menarik yang tersembunyi di balik sejarah pembangunan Masjid Shirathal Mustaqiem yang tertua di Kalimantan Timur.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 06 Juni 2019 12:40 WIB
Ilustrasi - Penampakan Masjid Shirathal Mustaqhiem, Samarinda, Kalimantan Timur. - Bisnis/Gloria F.K. Lawi

Bisnis.com, SAMARINDA - Ada kisah menarik yang tersembunyi di balik sejarah pembangunan Masjid Shirathal Mustaqiem yang tertua di Kalimantan Timur.


Juru Pelihara Mesjid Shirathal Mustaqhiem Sofian mengatakan bahwa bangunan Masjid Shirathal Mustaqhiem yang merupakan perpaduan interior berbagai kultur ini menyimpan mitos. 


Pada mulanya, sekitar 1880, seorang imam asal Yaman, Said Abdurachman bin Assegaf dari Pontianak, Kalimantan Barat, datang ke Samarinda Seberang yang mayoritas dihuni masyarakat Suku Bugis. 


Pasalnya, sebelum masjid ini berdiri, kebiasaan masyarakat di sekitar daerah ini sering berjudi hingga sabung ayam. Atas restu Sultan Kutai Kertanegara saat itu, Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Abdurachman bin Assegaf diperkenankan membangun masjid.


Sofian bercerita tatkala Said Abdurachman bin Assegaf hendak membangun masjid ini, dia kesulitan membangun empat tiang utama (soko guru). 


Konon, ketika jemaah yang sudah menyepakati luas masjid 2.028 meter persegi itu, telah berhasil mendirikan empat tiang utama berkat bantuan seorang nenek misterius. Namun, hingga kini belum diketahui keberadaan dan identitas nenek tersebut.


Sofian berkisah, kala itu, banyak warga yang tak mampu mengangkat dan menanamkan tiang utama. Berkali-kali dilakukan, tetap saja gagal. Beberapa menit kemudian, datanglah seorang perempuan berusia lanjut. Dengan tenang dia mendekati warga yang sedang bergotong royong. 


"Menjelang maghrib, seorang nenek berpakaian putih meminta izin kepada warga untuk memasang tiang pancang. Syaratnya, jangan ada jemaah atau siapapun yang mengawal dan mengintip sepanjang malam," tutur Sofian.


Awalnya warga menertawakan bantuan dari nenek tersebut. Mereka menilai mustahil seorang perempuan tua bisa mendirikan empat tiang utama. Namun Abdurachman bin Assegaf berpikir sebaliknya. Dia tidak meragukan apalagi sanksi pada kemampuan nenek itu.


Said pun meminta warga untuk memperkenankan si nenek untuk melakukan apa yang diinginkan. Nenek pun meminta warga dan Said Abdurachman balik ke rumah masing-masing. Singkat cerita, ketika subuh empat tiang utama mesjid ini sudah berdiri. Ketika warga mencari si nenek pemasang tiang utama namun mereka tidak menemukannya. 


"Jadi mesjid ini berdiri tahun 1881. Sudah tancap pondasi. Kemudian diresmikan tahun 1891 bertepatan pada hari Jumat. Adapun yang meresmikan Kutai Kertanegara, Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Beliau juga yang memimpin Salat Jumat jemaah," papar Sofian.


Sebagai tokoh di balik berdirinya Mesjid Shirathal Mustaqhiem, Sofian menyebut Said Abdurachman bin Assegaf akhirnya menjadi orang kepercayaan Sultan Aji Muhammad Sulaiman. 


Dia pun menerima gelar Pangeran Bendahara dari Kesultanan Kutai Kertanegara yang berpusat di Tenggarong, kini masuk kawasan Kabupaten Kutai Kertanegara. Adapun tugas Pangeran Bendahara adalah kepala pengawas atau kepala daerah di Samarinda Seberang.


Masjid ini pun resmi berdiri pada 1881 dengan nama Mesjid Jami artinya tempat penghimpunan jemaah. Lalu mesjid ini mengalami perubahan nama menjadi Shirathal Mustaqhiem artinya Jalan Lurus sebagai penanda bahwa mesjid ini membawa perubahan pada perilaku dan budaya masyarakat di Samarinda Seberang.


Pada 1891 juga ketika mesjid ini diresmikan selanjutnya didirikan pula sebuah menara untuk membantu syiar doa setiap hari. Menurut Sofian menara itu adalah yang sumbangan orang Belanda, seorang pengusaha kayu yang mualaf.


Dia adalah Henry Dasen, seorang saudagar kaya berkebangsaan Belanda, yang pada 1902 memberikan sejumlah hartanya untuk pembangunan menara masjid berbentuk segi delapan, setinggi 21 meter. Menara itu berdiri tepat di belakang kiblat masjid.


Mesjid Shirathal Mustaqhiem ini pernah melalui proses renovasi pada tahun 1999 - 2001. Alasan renovasi karena struktur bangunan dari kayu yang mulai banyak termakan rayap. Selain itu renovasi juga bertujuan memperluas mesjid seiring dengan bertambahnya jumlah jemaah di Samarinda Seberang.


"Jadi dari tahun 1999 sampai 2001 itu diganti semua. Dalam mesjid yang asli cuma dari kayu, di tiangnya kini dibungkus semen dan besi. Supaya jangan turun lagi," papar Sofian.


Asal tahu saja, mesjid ini pernah menjadi pemenang ke-2 dalam Festival mesjid-mesjid bersejarah di Indonesia pada 2003.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim, masjid

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top