Terpantau 276 Titik Panas di Kalimantan Barat

Satelit yang dikelola LAPAN mencatat 276 titik panas, dan hanya Kota Singkawang yang tidak ditemukan titik panas.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  19:53 WIB
Terpantau 276 Titik Panas di Kalimantan Barat
Sejumlah anggota Pemadam Kebakaran (Damkar) Panca Bhakti membagikan masker kepada pengendara motor yang melintasi Jalan Ahmad Yani Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (8/8/2019). Pemuda Damkar Panca Bhakti bersama Lions Club Pontianak membagikan empat ribu masker kepada para pengendara motor agar terhindar dari asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah kota/kabupaten di Kalimantan Barat. - Antara/Jessica Helena Wuysang

Bisnis.com, PONTIANAK — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menyatakan, terpantau 276 titik panas di 13 kabupaten/kota di Kalbar, Kamis (8/8/2019).

"Dari data yang terpantau oleh satelit yang dikelola LAPAN tercatat 276 titik panas, dan hanya Kota Singkawang yang tidak ditemukan titik panas, dari tanggal 7 hingga 8 Agustus 2019," kata Prakirawan BMKG Supadio Pontianak, Septika Sari di Sungai Raya, Kamis.

Data BMKG Supadio Pontianak berdasarkan data satelit yang dikelola LAPAN, yakni tercatat sebanyak 276 titik panas yang tersebar di 13 kabupaten/kota, diantaranya terbanyak di Kabupaten Sanggau sebanyak 77 titik panas, kemudian disusul Kapuas Hulu 47 titik panas; Kubu Raya 41 titik panas; Sintang 39 titik panas; Ketapang 21 titik panas, Landak 15 titik panas; Bengkayang 7 titik panas; Sambas 5 titik panas; Kayong Utara 3 titik panas; Kabupaten Sekadau dan Kota Pontianak masing-masing 2 titik panas, sementara Kota Singkawang tidak ditemukan titik panas.

"Data hotspot tersebut terpantau dari pukul 07.00 WIB tanggal 7 Agustus hingga 8 Agustus 2019, hari selanjutnya juga begitu," ujarnya.

Ia menambahkan, dalam tiga hari berturut-turut di kawasan Bandara Supadio Pontianak jarak pandangnya di bawah satu kilometer, mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB, dan jarak pandang mulai normal kembali sekitar pukul 07.00 WIB ke atas.

Sebelumnya, Rabu (7/8) Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengimbau kepada masyarakat di kota itu, agar mengurangi atau tidak melakukan aktivitas di luar rumah, terutama di malam hari, karena kualitas ISPU (indeks standar pencemaran udara) sudah masuk ketegori tidak sehat.

Ia menyebutkan, level atau kategori ISPU di Pontianak sudah di warna kuning artinya sudah tidak sehat.

"Sehingga akan kami pantau terus, apakah aktivitas belajar sekolah akan diliburkan atau belum, dampak dari Karhutla," kata Edi.

Karena, menurut dia pengaruh atau dampak asap akibat Karhutla bisa berpengaruh per hari atau bahkan per jam. "Apabila angin kencang maka kabut asap akan berkurang, tetapi apabila sebaliknya, maka kabut asap akan semakin tebal," ungkapnya.

Saat ini, tambahnya Pemkot Pontianak hanya bisa mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di luar rumah di malam hari.

"Kalau pun harus keluar rumah sebaiknya menggunakan masker yang dibasahi agar partikel debu melekat di masker tersebut," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalbar, kebakaran hutan

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top