Kalimantan Jangan Terjebak Kutukan Daerah SDA

Kalimantan, wilayah yang diberkahi oleh sumber daya alam, diharapkan bisa mengambil pelajaran dari sejumlah negara lain agar tidak terjebak oleh kutukan wilayah SDA.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  20:37 WIB
Kalimantan Jangan Terjebak Kutukan Daerah SDA
Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, BALIKPAPAN—Kalimantan, wilayah yang diberkahi oleh sumber daya alam, diharapkan bisa mengambil pelajaran dari sejumlah negara lain agar tidak terjebak oleh kutukan wilayah SDA.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan secara historis negara kaya SDA memang tidak bisa lepas dari kutukan/karma. Banyak negara SDA yang pada ujungnya berakhir miskin dan rusuh.

“Paling gampang Timur tengah. Libya kurang apa soal produksi minyak. Tapi sekarang nggak jelas sekarang pemerintaha Libya yang mana. Ada dua tiga pihak yang mengklaim,” jelasnya Selasa (20/8/2019)

Tak hanya Libya, lanjut Bambang, Venezuela saat ini juga tengah mengalami krisis ekonomi yang membuatnya hampir collapse.

Negara yang banyak mengahsilkan kontestan miss universe tersebut, secara ekonomi mengalami kegagalan luar biasa. Negara dengan cadangan minyak bumi terbesar mengalahkan Arab Saudi kini dilanda inflasi hingga ribuan persen. Banyak warga negaranya hengkang dan lari ke Kolombia ataupun Brazil.

“Karena salah urus terlalu terbuai dengan sumber daya alam. Kalau terbuai, teknologi itu bergerak makin cepat. Teknologi apapun bentuknya akan cepat menggantikan SDA. Kalau dulu mobil butuh bendin BBM, sekarang sudah ada mobil listrik. Nggak perlu minyak dan pom bensin lagi. Harga minyak bisa jatuh, dan negara yang tidak pintar,” imbuhnya.

Selain itu, Bambang memaparkan Kalimantan perlu mengubah strategi orientasi pembangunan selama 5 tahun mendatang.

Berdasarkan statistik Bappenas, tren pertumbuhan ekonomi cenderung melambat. Secara nasional, ekonomi Indonesia periode (1968-1979) pernah mencapai 7,5%, selanjutnya 6,4% menjelang krisis tahun 98 turun lagi 4,3% saat mengalami komoditi booming.

“Grafik itu mmeberikan pelajaran kepada Kalimantan. Ketika ekonomi tumbuh 5,3% itu saat harga batubara dan minyak bumi mengalami puncaknya. Kenapa justru sebelumnya bisa tumbuh 6,4% karena tidak terlalu bertumpu SDA, memang ada minyak tapi periode itu yang dominan adalah industri manufaktur padat karya,” tekannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalimantan, bambang brodjonegoro

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top