Operator Seluler Percepat Migrasi di Kalimantan

Operator seluler mengoptimalkan peningkatan jaringan 4g LTE bagi para pelanggan di Kalimantan di samping mempersiapkan investasi pembangunan Base Transceiver Station atau (BTS) dalam mempersiapkan infrastruktur di ibu kota baru.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 27 September 2019  |  19:45 WIB
Operator Seluler Percepat Migrasi di Kalimantan
Teknisi melakukan pemeliharaan perangkat pada menara Base Transceiver Station (BTS) di Kalimantan Selatan - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, BALIKPAPAN— Operator seluler mengoptimalkan peningkatan jaringan 4g LTE bagi para pelanggan di Kalimantan di samping mempersiapkan investasi pembangunan Base Transceiver Station atau (BTS) dalam mempersiapkan infrastruktur di ibu kota baru.

Head External Communications PT XL Axiata Tbk. Henry Wijayanto mengatakan hingga akhir Juni 2019, tercatat sekitar 1,7 juta pelanggan di Kalimantan, dengan lebih dari 75% merupakan pelanggan data aktif.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 14% dari periode yang sama tahun lalu. Perusahaan mengkategorikan layanan 3G maupun 4G sebagai pelanggan data aktif.

Dia memprediksikan jumlah pelanggan data di Kalimantan terus meningkat sejalan dengan meluasnya jaringan 4G LTE XL Axiata, ditambah dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat yang berada di area perkotaan ataupun pedesaan untuk memanfaatkan layanan data guna mendukung aktifitas

Henry menyebutkan, terlebih nantinya untuk mempersiapkan Ibukota baru di Kalimantan Timur. Hal yang paling mendasar adalah persiapan infrastrukturnya akan disesuaikan dengan kebutuhan di sana. 

“Kami perlu tahu juga rencana dari pemerintah seperti apa yang akan dibangun, supaya nanti bisa selaras. Kalau untuk masalah bisnis sendiri, kami rasa tidak terlalu terganggu, hanya permasalahan penyediaan infrastruktur untuk mendukung Ibukota baru,” jelasnya Jumat (27/9/2019).

Adapun saat ini jaringan data XL Axiata telah tersedia di 9 kota/kabupaten di Kalimantan Timur, dengan dukungan total lebih dari 2.000 BTS. Khusus jaringan 4G LTE, sudah masuk ke 7 kota/kabupaten, dengan lebih dari 650 BTS.

Hingga saat ini Kota/kabupaten yang sudah terlayani jaringan Data XL Axiata, antara lain di Kalimantan Timur meliputi Balikpapan, Samarinda, Bontang, Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Paser dan Penajam Paser Utara. Kalimantan Utara meliputi Tarakan, Bulungan, Malinau, dan Nunukan.

Sementara itu, PT Telekomunikasi Selular Tbk. secara spesifik menargetkan tambahan 1,2 juta pelanggan 4G baru hingga akhir 2019. Sejauh ini baru 4 juta pelanggan operator pelat merah  tersebut yang bermigrasi.

Dengan demikian fokus utama Telkomsel untuk saat ini adalah mereka yang sudah memiliki smartphone 4G tetapi masih menggunakan kartu SIM biasa, bukan USIM.

"Kami terus mengedukasi pelanggan-pelanggan ini untuk berubah dari SIM ke USIM. Terutama yang sudah memakai smartphone tetapi masih SIM biasa, dan yang masih pakai feature phone kami edukasi menjadi smartphone,”jelasnya.

Selama ini Telkomsel menyebutkan bahwa kendala utama migrasi ini pelanggan yang malas untuk datang ke Grapari untuk menggantikan kartunya dari SIM card ke USIM.

Telkomsel juga mendorong pengguna untuk beralih ke 4G dengan beberapa cara, seperti mengirim pesan broadcast ke customer non-4G, menelpon pengguna non-4G untuk beralih ke 4G, hingga mengantar kartu 4G baru ke rumah pelanggan.

Selain itu, Telkomsel menyediakan kartu over the air (OTA). Kartu OTA memang menjadi pengganti migrasi kartu ke USIM. Strategi jemput bola juga diterapkan Telkomsel untuk memuluskan migrasi pelanggan.

Terkait jumlah pelanggan, hingga saat ini Telkomsel mengklaim sudah memiliki sekitar 12,6 juta pelanggan di wilayah Kalimantan, di mana 6,8 juta diantaranya merupakan pelanggan data (4G).

Masih Sulit Tembus

Lebih jauh, Telkomsel secara lebih spesifik telah memetakan terdapat empat kelurahan yang berpotensi kuat menjadi titik lokasi Ibu Kota baru, yaitu kelurahan Riko, Pemaluan, Bumi Harapan, dan Bukit Raya.

Dari keempat wilayah tersebut, kelurahan Riko menjadi daerah yang paling sulit untuk ditembus jaringan lantaran luasnya daerah tersebut dengan besar wilayahnya merupakan hutan yang

GM Network Operation Quality sedikit penghuninya.

Management Telkomsel Regional Kalimantan, Rahmad Putra Jaya mengatakan pembangunan infrastruktur akan sulit dilakukan jika tidak ada penduduk. Hal itu lantaran besarnya. Dia memperkirakan investasi senilai Rp1 -- Rp2 miliar, apalagi tower-nya tinggi karena di daerah hutan.

Untuk titik-titik pemukiman dan jalur utama penghubung antar kelurahan, sinyal Telkomsel sudah ada, sinyal 2G. Namun, di beberapa wilayah, cakupan 4G Telkomsel masih tipis dan sering timbul tenggelam.

Rahmad menekankan pihaknya berencana memperkuat jaringan di titik-titik ini jika memang nantinya akan menjadi lokasi Ibu Kota baru. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalimantan, operator seluler

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top