Laju Deflasi Kaltim Lebih Dalam Akibat Komoditas Daging

Menurutnya, deflasi Kaltim yang lebih dalam pada bulan ini umumnya dipengaruhi oleh deflasi kelompok bahan makanan pada komoditas daging ayam ras dan layang/benggol.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 06 Oktober 2019  |  17:50 WIB
Laju Deflasi Kaltim Lebih Dalam Akibat Komoditas Daging
Ayam potong. - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Provinsi Kalimantan Timur mengalami deflasi -0,27 persen (mtm) yang lebih dalam pada September 2019 dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni -0,19 persen (mtm)

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur Tutuk Cahyono mengatakan pergerakan tersebut sejalan dengan kondisi nasional yang juga tercatat mengalami deflasi sebesar -0,27 persen (mtm) pada September 2019 setelah pada bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,12 persen (mtm).

Dengan demikian, lanjut dia, hingga September 2019, inflasi tahun kalender Kaltim tercatat 1,41 persen (ytd) atau secara tahunan sebesar 1,73 persen (yoy).

Menurutnya, deflasi Kaltim yang lebih dalam pada bulan ini umumnya dipengaruhi oleh deflasi kelompok bahan makanan pada komoditas daging ayam ras dan layang/benggol.

“Deflasi pada komoditas tersebut umumnya disebabkan oleh melimpahnya stok di pasar, penurunan permintaan masyarakat, serta pola siklikal produksi yang tinggi pada periode berjalan khususnya untuk komoditas layang/benggol dikarenakan arus gelombang serta cuaca yang kembali kondusif,” jelasnya melalui keterangan resmi Minggu (6/10/2019).

Berdasarkan kota pembentuknya, deflasi terjadi di Kota Balikpapan sebesar -0,03 persen (mtm), lebih rendah deflasinya dibandingkan periode sebelumnya yang terdeflasi -0,52 persen (mtm).

Sejalan dengan pergerakan deflasi Kaltim, deflasi Kota Balikpapan juga dipengaruhi oleh kelompok bahan makanan yang bersumber dari komoditas layang/benggol serta daging ayam ras. Komoditas layang/benggol dan daging ayam ras tercatat masing mengalami deflasi -12,49 persen (mtm) dan -9,09 persen (mtm) serta memberikan andil masing masing sebesar -0,09 persen (mtm) dan -0,11 persen (mtm) terhadap deflasi Balikpapan.

Sementara itu, Kota Samarinda juga mengalami deflasi sebesar -0,46 persen (mtm) pada September 2019 setelah pada bulan sebelumnya tercatat mengalami inflasi sebesar 0,07 persen (mtm). Berdasarkan komoditasnya, deflasi Kota Samarinda juga dipengaruhi oleh komoditas daging ayam ras dan layang/benggol yang masing-masing mengalami penurunan sebesar -15,42 persen (mtm) dan -12,44 persen (mtm) dan memiliki andil masing-masing sebesar -0,24 persen (mtm) dan -0,10 persen (mtm) terhadap deflasi Samarinda.

Sejumlah kegiatan akan dilakukan guna mengantisipasi kenaikan harga yang berkelanjutan, seperti Gerakan Tanam Cabai sampai dengan ke tingkat RT yang bekerjasama dengan Pemda Kota Samarinda dan pihak-pihak terkait yang juga sebagai bentuk tindak lanjut arahan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

Selain itu, TPID Kaltim juga berencana mengembangkan model kerjasama antar daerah antara kota-kota di Kaltim dengan daerah sentra produksi dan SDM terampil, untuk mengamankan pasokan dan pembangunan kapasitas SDM di Kaltim terkait komoditas pangan strategis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, kaltim

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top