Cukai Rokok, Listrik, Iuran BPJS Picu Inflasi Kaltim 2020

Kalimantan Timur diproyeksikan menghadapi tkanan inflasi yang lebih tinggi pada tahun depan dengan kenaikan di sejumlah komponen administered prices (AP) seperti cukai rokok, tarif listrik, serta iuran BPJS hingga harga emas.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 05 November 2019  |  13:51 WIB

Bisnis.com, BALIKPAPAN – Kalimantan Timur diproyeksikan menghadapi tkanan inflasi yang lebih tinggi pada tahun depan dengan kenaikan di sejumlah komponen administered prices (AP) seperti cukai rokok, tarif listrik, serta iuran BPJS hingga harga emas.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur Tutuk Cahyono mengatakan, untuk menahan tekanan tersebut, pihaknya akan berfokus dalam mengendalikan komoditas pangan yang bersumber dari kelompok volatile food.

Selain itu, imbuh dia terkait dengan aktivitas Ibu Kota Negara (IKN) juga ikut memberi tekanan pada peningkatan permintaan komoditas pendorong inflasi. Untuk itu, katanya, kerja sama antar daerah di Kaltim yang menjadi sentra produksi harus diperkuat.

“Hal ini harus dibarengi dengan strategi untuk meningkatkan pasokan, lebih lancarnya distribusi, monitoring dan koordinasi yang lebih aktif, serta komunikasi yang lebih efektif agar inflasi tetap terjaga rendah dan stabil,” jelasnya kepada Bisnis Selasa (5/11/2019).

Di sisi lain, Tutuk juga mengharapkan peningkatan permintaan bisa menjadi peluang bagi pelaku usaha di Kaltim untuk dapat memenuhi barang dan jasa yang dibutuhkan, supaya dapat meningkatkan perekonomian.

Selama triwulan terakhir, Kalimantan Timur mengalami deflasi dimulai dari Agustus-Oktober 2019. Adapun penyebab utama deflasi pada Oktober 2019 adalah penurunan tarif angkutan udara yang memasuki fase low season.

Namun Tutuk menyebutkan bahwa dalam sisa waktu 2019 ini, tarif angkutan udara akan mengelami rebound karena akan menghadapi Hari Besar Keagamaan dan Nasiona (HBKN) dan libur sekolah pada akhir tahun.

Dengan demikian dia memperkirakan akan terjadi inflasi pada akhir tahun yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Hal tersebut dikarenakan pasokan pangan.

Sementara itu Kepala Bank Indonesia perwakilan Balikpapan Bimo Epyanto mengatakan peningkatan konsumsi sebagai dampak IKN tahun depan menjadi tantangan tersendiri. Menuurtnya kerja sama perdagangan antar daerah menjadi opsi untuk bisa meredam gejolak inflasi.

Terutama karena Balikpapan yang nantinya berperan sebagai penyangga masih banyak mendatangkan stok bahan pangan dari luar daerah.

“Masyarakat akan berkompetisi dalam berkonsumsi. Yang perlu dipikirkan adalah regulasinya. Pemerintah bisa mengatur itu, siapa yang menjadi operator pangannya. Perusda bisa menunjuk pedagang besar menjadi asosiasi sebagai operator di lapangan," jelasnya.

Menurut Bimo, pada akhir tahun ini inflasi masih terjadi yang berasal dari permintaan tinggi untuk daging ayam ras padahal pasokan tak terlalu banyak. Pihaknya menilai saat ini secara year to date inflasi masih dibawah 2%. Dengan demikian apabila menggunakan skenario terburuk, inflasi hingga akhir tahun ini paling besar masih berada di kisaran 3%.

“Daya beli masyarakat lebih baik karena tekanan lebih rendah. Kemudian juga harus melihat bagaimana Produk Domestik Regional Bruto (pdrb) dulu,” imbuhnya.

Harga Emas

Bimo juga memproyeksikan pada 2020 tantangan inflasi berasal dari tingginya harga emas. Saat ini fluktuasi harga emas memang belum memberikan dampak karena dibayangi oleh turunnya harga pangan.

Pasalnya hingga kini kondisi ekonomi global yang melambat bisa makin buruk. Kondisi itu dengan mempertimbangkan penurunan proyeksi pertumbuhan global baik China maupun Eropa. Hal tersebut bisa memacu gejolak sehingga emas menjadi penempatan aset yang paling aman adalah emas dan mengakibatkan harganya bisa melambung tinggi.

Dia menegaskan deflasi yang melanda Kaltim bukan dikarenakan komponen yang berkaitan dengan daya beli masyarakat, melainkan karena koreksi harga sayuran yang sudah sewajarnya setelah naik tajam.

Secara keseluruhan provinsi Kalimantan Timur yang mencakup kota Samarinda dan Kota Balikpapan masih dilanda tingkat deflasi sebesar 0,37% pada Oktober 2019.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Oktober 2019 masing-masing terjadi deflasi 0,12% di Kota Samarinda dan deflasi sebesar 0,69% di Kota Balikpapan.

Deflasi di Kalimantan Timur dipengaruhi oleh penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi sebesar 1,28%. Selanjutnya kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami deflasi sebesar 0,96%, kelompok pendidikan rekreasi dan olah raga sebesar 0,07% dan kelompok kesehatan dengan deflasi sebesar 0,05%.

Sementara itu 3 kelompok lainnya justru mengalami inflasi yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,26% kemudian kelompok sandang sebesar 0,17% dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,01%.

Berdasarkan data tersebut tingkat inflasi tahun kalender sebesar 1,03% dan tingkat Inflasi tahun ke tahun sebesar 1,51%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim, inflasi kaltim

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top