Gara-gara Sektor Konstruksi, Kredit Bermasalah di Balikpapan di Ambang Batas

Kinerja rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) perbankan di Balikpapan, Kalimantan Timur, masih memerah dan menyentuh angka di atas 5%.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 15 Desember 2019  |  21:46 WIB
Gara-gara Sektor Konstruksi, Kredit Bermasalah di Balikpapan di Ambang Batas
Ilustrasi kegiatan konstruksi. - Reuters

Bisnis.com, BALIKPAPAN – Kinerja rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) perbankan di Balikpapan, Kalimantan Timur, masih memerah dan menyentuh angka di atas 5%.

Secara komposisi, sektor konstruksi masih menjadi penyumbang besar NPL dengan besaran 24,89%, disusul jasa sosial sebesar 6,96%, dan perdagangan 3,46%.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan Bimo Epyanto mengatakan NPL mencapai 5,14% pada kuartal III/2019. Meski demikian, lanjut Bimo, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (y-o-y), NPL bisa lebih ditekan.

“Periode yang sama tahun lalu, NPL mencapai 9,23%. Jika dibandingkan dengan kuartal III/2019 sudah ada perbaikan," jelasnya pada Minggu (15/12/2019).

Berdasarkan data BI perwakilan Balikpapan NPL Kota Minyak mulai berada di atas ambang batas pada akhir 2015 menyentuh angka 7,23%.

Kondisi tersebut berlanjut pada 2016 yang mampu menembus dua digit di level,10,27%. Memasuki 2017 NPL hingga triwulan I/2019 menembus dua digit 12,22% hingga puncaknya pada semester I/2017 sebesar 12,30%.

Kemudian pada 2018, kendati bisa mulai berkurang, tingkat NPL masih cenderung melebihi ambang batas.

Tren perbaikan kredit bermasalah terus terjadi terlihat hingga Juni lalu NPL di angka 6,27 persen atau senilai Rp1,5 triliun.

Sementara itu, kredit perbankan tercatat 2,43 persen (yoy) atau senilai Rp25,95 triliun. Melambat dibandingkan dengan September 2019. Perlambatan bersumber dari kredit konsumsi terutama pada kredit untuk perseorangan dan penurunan kredit investasi untuk pengembangan usaha di sektor pertambangan dan perdagangan.

Kredit modal kerja tercatat tumbuh sebesar 14,59% dibandingkan kuartal III/2019 mencapai 11,86%. Selain itu, pada Oktober 2018 sebesar 1,54%.

Sektor lainnya untuk penyaluran kredit investasi justru kontraksi lebih besar mencapai 12,42% dibandingkan dengan kuartal III/2019 yang mencapai negatif 9,82%. Selain itu, penyaluran kredit konsumsi memburuk menjadi 3,74% dari triwulan III/2019 yang mampu tumbuh lebih besar 4,01%.

Bimo menjelaskan kredit pertambangan saat ini mengalami kontraksi hingga 56%. Menurutnya, gairah industri penunjang untuk batu bara di Balikpapan belum dirasakan. Selain itu, perbankan memang masih berhati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor tambang.

“Yang naik atau tumbuh dari industri pengolahan atau manufaktur. Kredit yang dikucurkan ke sektor ini mampu tumbuh 10% hingga 12%, tapi dari skala kredit masih kecil,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
konstruksi, balikpapan

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top