Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

2019, Target Penerimaan Bea Masuk dan Keluar DJBC Kalbagtim Tak Sesuai Harapan

Ini membuat para pengusaha menahan produksinya. Dampaknya pembelian suku cadang alat berat juga menurun, tetapi target penerimaan 2020 tetap naik.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  22:05 WIB
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra
 
Bisnis.com, BALIKPAPAN — Target penerimaan Direktorat Jenderal Bea Cukai Kalimantan Bagian Timur atau DJBC Kalbagtim pada 2019 tidak sesuai harapan. Dari target total penerimaan yang dikejar sebesar Rp628.883.826.000, hanya terealisasi sebesar Rp606.978.165.590 atau 96,52 persen.
 
Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan Internal dan Layanan Informasi Kanwil DJBC Kalbagtim, Arief Rahman mengatakan bahwa tidak terealisasi target disebabkan oleh menurunnya harga batu bara. 
 
Ini membuat para pengusaha menahan produksinya. Dampaknya pembelian suku cadang alat berat juga menurun, tetapi target penerimaan 2020 tetap naik.
 
“Penerimaan kita dari 2019 meski hanya 96,52 persen, target tahun ini naik 1,01 persen. Dari Rp628 miliar jadi Rp637 miliar,” katanya di Balikpapan, Rabu (12/2/2020).
 
Arief menjelaskan bahwa dari semua penerimaan pada 2019, bea masuk yang tidak sesuai target. DJBC hanya mendapat Rp572.200.309.340 dari target Rp609.105.764.000 atau sekitar 93,94 persen.
 
Meski bea masuk tidak sesuai harapan, bea keluar melebihi capaian. DJBC memperoleh Rp33.376.745.000 dari target sebesar Rp19.098.922.000 atau sekitar 174,76 persen. Sementara itu, pendapatan dari cukai naik dua kali lipat. Dari target sebesar Rp679.140.000, DJBC memperoleh Rp1.401.111.250 atau 206,31 persen. 
 
Arief menjelaskan bahwa kontribusi terbesar dari cukai adalah produk cairan vape.
 
“Yang lain-lain kaya tembakau kita tidak ada. Rokok tidak ada. Minuman keras tidak ada. Paling besar vape ini,” jelasnya
 
Berdasarkan catatan DJBC Kalbagtim, komoditas impor terbesar dari Kaltim adalah minyak mentah, alat berat, suku cadang alat berat, dan ban.
 
Sementara itu untuk ekspor adalah batu bara, minyak sawit mentah, ikan, kayu semiolahan, dan produk kimia. Dari sisi pajak sendiri, Kalbagtim memperoleh Rp3.108.374.863.450
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bea Cukai cukai
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top