Jika B100 Berhasil, Indonesia Bisa Seperti Uni Emirat Arab

Indonesia diyakini akan menjadi Uni Emirat Arab kedua jika berhasil menerapkan penggunaan biodiesel hingga 100 persen.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  05:51 WIB
Jika B100 Berhasil, Indonesia Bisa Seperti Uni Emirat Arab
Petugas memperlihatkan contoh bahan bakar biodiesel saat peluncuran Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, di Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, SAMARINDA - Jika berhasil menerapkan penggunaan biodiesel hingga mencapai B100 atau 100 persen, Indonesia diyakini bisa menjadi Uni Emirat Arab kedua.

Indonesia tidak akan tergantung lagi pada sama kurs minyak. Kondisinya sama dengan Brasil yang tidak terganggu krisis bahan bakar dari luar karena memiliki etanol.

Keyakinan itu disampaikan Komite Teknik Direktorat Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Abdul Rochim.

Di sisi lain, kendala utama dalam menggunakan bahan bakar biodiesel baik itu B10 hingga B100 adalah dampak negatif pada mesin. Sifatnya yang mudah menyerap air menyebabkan korosi sehingga perlu perawatan ekstra.

Abdul Rochim mengatakan penggunaan biodiesel harus dibarengi dengan penanganan yang benar. Oleh karena itu, pemerintah telah membuat petunjuk pemakaian yang harus diikuti.

Baginya, biodiesel memiliki keunggulan dapat diperbarui karena merupakan energi terbarukan. Sementara cadangan minyak fosil yang ada di Indonesia pasti bakal habis.

"Sementara populasi manusia makin banyak, produksi makin tinggi. Nah solusinya melalui renewable energi ini," kata Abdul Rochim di Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (27/2/2020).

Abdul mengakui biodiesel lebih mahal. Tidak seperti minyak yang dikeruk dari lapisan tanah dan tinggal dibor, energi ramah lingkungan butuh proses panjang. Akan tetapi produk akhirnya sama. Oleh karena itu, mau tidak mau biodiesel harus diterapkan.

Memang, lanjut Abdul, kendalanya adalah belum cocoknya antara biodiesel dengan mesin. Akan tetapi dia yakin nantinya akan ada teknologi yang mengatasi itu.

"Kalau berhasil misalnya sampai B100, kita bisa jadi Uni Emirat Arab kedua. Kita tidak tergantung sama kurs minyak. Sama kaya Brazil. Dia mau krisis [dari luar] tidak peduli. Karena dia punya etanol," jelas Abdul.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Biodiesel

Editor : Saeno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top