Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tarif Angkutan Udara Pengaruhi Inflasi Balikpapan 0,27 Persen

Bank Indonesia mencatat Kota Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,27 persen yang didorong kenaikan tarif angkutan udara
M. Mutawallie Sya’rawie
M. Mutawallie Sya’rawie - Bisnis.com 02 Desember 2021  |  20:48 WIB
Produk kargo yang diangkut sebanyak 95 persen adalah produk general cargo seperti barang hantaran dan dokumen.  - Citilink
Produk kargo yang diangkut sebanyak 95 persen adalah produk general cargo seperti barang hantaran dan dokumen. - Citilink

Bisnis.com, SAMARINDA – Bank Indonesia mencatat Kota Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,27 persen yang didorong kenaikan tarif angkutan udara pada November 2021.

Asisten Direktur Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Mahdi Abdillah menyatakan inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan Oktober 2021 yang hanya mengalami inflasi sebesar 0,05 persen.

“Sementara secara tahunan, inflasi IHK Kota Balikpapan tercatat sebesar 1,80 persen (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional (1,75 persen-yoy) maupun Kalimantan Timur (1,71 persen-yoy),” dikutip dalam keterangan tertulis, Kamis (2/12/2021).

Inflasi tersebut turut disebabkan oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi dengan andil 0,32 persen (mtm), sehingga mendorong kenaikan tarif angkutan udara sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat di tengah pelonggaran aktivitas sosial.

Selain itu, inflasi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar rumah tangga terjadi sebesar 0,05 persen (mtm) didorong oleh kenaikan beberapa komoditas bangunan seperti semen, cat tembok dan seng.

“Inflasi juga dialami oleh kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga dengan andil 0,01 persen (mtm) yang didorong oleh komoditas detergen bubuk/cair sejalan dengan adanya penyesuaian harga dari produsen,” ungkapnya.

Di sisi lain, terjadi deflasi di kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 0,09 persen (mtm), didorong oleh menurunnya harga komoditas sayuran hijau seperti kangkung, sawi hijau, bayam serta komoditas lain seperti tomat, dan ikan selar.

Kendati demikian, Mahdi menyebut deflasi tertahan oleh kenaikan beberapa komoditas di kelompok makanan seperti minyak goreng, cabai rawit, cabai merah dan bawang merah.

Dia menuturkan, bahwa ke depan, beberapa faktor yang diperkirakan akan memberikan tekanan inflasi, di antaranya yaitu naiknya konsumsi masyarakat di dalam kota seiring dengan adanya larangan bepergian di periode Nataru (Natal dan Tahun Baru).

Kemudian, berlanjutnya kenaikan harga minyak goreng seiring dengan naiknya harga CPO dunia dan kenaikan harga komoditas perikanan di tengah cuaca yang kurang kondusif.

“Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan terus bersinergi dan berkolaborasi menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, serta memperkuat koordinasi guna menjaga inflasi tetap rendah dan stabil menuju sasaran 3 persen,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia Inflasi balikpapan
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top