Bank Indonesia: Ekonomi Kaltim Bisa Tumbuh 4,15 Persen saat Tutup Tahun 2022

Perekonomian Kaltim tahun 2022 diprakirakan kembali meningkat pada rentang 3,35 persen sampai dengan 4,15 persen (yoy) setelah tumbuh positif pada 2021.
Gerbang tol Samboja di Jalan Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam) di Kalimantan Timur./Bisnis/Tim Jelajah Infrastruktur Kalimantan 2020
Gerbang tol Samboja di Jalan Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam) di Kalimantan Timur./Bisnis/Tim Jelajah Infrastruktur Kalimantan 2020

Bisnis.com, BALIKPAPAN –– Bank Indonesia memprakirakan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) akan menutup tahun 2022 dengan kinerja perekonomian yang meningkat hingga 4,15 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Ricky P Gozali menyatakan perekonomian Kaltim tahun 2022 diprakirakan kembali meningkat pada rentang 3,35 persen sampai dengan 4,15 persen (yoy) setelah tumbuh positif pada tahun 2021.

Peningkatan kinerja ekonomi di tahun 2022 utamanya berasal dari peningkatan kinerja LU utama Kaltim antara lain pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, pertanian, dan perdagangan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (27/12/2022).

Kemudian, dia mengungkapkan bahwa perekonomian Kaltim pada tahun 2023 diproyeksi masih akan tumbuh positif tetapi melambat dibanding tahun sebelumnya yang didorong oleh kinerja LU industri pengolahan dan konstruksi yang diprakirakan mengalami peningkatan.

Sementara itu, kinerja LU pertambangan berpotensi menurun akibat perlambatan ekonomi global yang terjadi seiring dengan prakiraan penurunan permintaan negara tujuan utama serta proyeksi harga komoditas batu bara yang diprakirakan akan melandai.

Di sisi lain, Ricky menyebutkan pertumbuhan ekonomi global pada 2022 diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 3,2 persen (yoy) menjadi sebesar 3,0 persen (yoy).

Imbasnya, pertumbuhan ekonomi di negara mitra utama Kaltim yaitu Tiongkok dan India yang diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya turut mempengaruhi kinerja ekonomi Kaltim melalui ekspor komoditas utama tahun mendatang.

Selain itu, risiko berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global memberikan tekanan pada aliran modal portofolio asing serta menekan nilai tukar di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Adapun, dia menuturkan bahwa hal tersebut terjadi sebagai respons kebijakan berbagai negara utama khususnya Amerika Serikat terhadap inflasi melalui pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif menambah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper