Bandara SAMS Sepinggan Diminta Lakukan Diferensiasi

Penurunan penumpang pada Angkutan Lebaran 2019 di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, perlu direspons dengan diferensiasi dan inovasi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 14 Juni 2019 17:20 WIB
Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan, Kalimantan Timur. - BUMN.go.id

Bisnis.com, SAMARINDA – Penurunan penumpang pada Angkutan Lebaran 2019 di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, perlu direspons dengan diferensiasi dan inovasi untuk mempertahankan profit.

Pengamat penerbangan Saladin Siregar mengatakan kehadiran Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto di Samarinda merupakan kasus unik karena bisa menggerus jumlah keterisian di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan sampai 45%. Padahal, dengan keberadaan APT Pranoto perlu menjadi pemicu AP I untuk lebih melakukan inovasi.

“Sebenarnya setiap pembangunan bandara itu ada studinya, ada kajiannya. Pasti tujuan awalnya agar competitivenessnya semakin tinggi. Sebab biasanya kalau ada monopoli satu bandara saja pelayanannya tidak optimal. Kalau ada pesaing bisa lebih baik,” terang Saladin saat dihubungi Bisnis, Jumat (14/6/2019).

Saladin menilai ada kemungkinan penumpang yang beralih adalah penumpang yang berasal dari Samarinda dan sekitarnya seperti Bontang dan Sangatta. Meski demikian, ketertarikan maskapai untuk berekspansi dan membuka rute di Samarinda juga menarik untuk ditelusuri terutama terkait biaya operasional maskapai untuk operator.

“Artinya mungkin selama ini [di Balikpapan] cost landingnya lebih tinggi. Ketika ini beralih maka nanti revenue APT Pranoto bisa lebih tinggi dari Sepinggan. Kalau terus begitu bisa deifist. Maka profit managemennya harus diperbaiki,” sambungnya.

Oleh sebab itu, Saladin mengusulkan agar AP I selaku operator Bandara SAMS Sepinggan bisa memberi layanan baru dari maskapai berupa rute yang lebih fleksibel. Dengan diferensiasi rute di SAMS Sepinggan maka penumpang semakin punya banyak pilihan dan bisa memutuskan jalur penerbangan sesuai kebutuhan.

“Perlu inovasi juga dari sarana dan prasarana, rute, manajemen terbang dan landas. Bagaimana agar maskapai mendarat juga bisa lebih murah,” tuturnya.

Mantan konsultan di CSE Aviation milik Cheppy Hakim ini menambahkan, APT Pranoto dan SAMS Sepinggan juga bisa bersinergi dan tidak menjadi predator bagi satu dengan lain.

Dia mengambil contoh sinergi antara Bandara Soekarno-Hatta sebagai bandara komersil, sementara Bandara Halim Perdanakusuma selain komersil juga menjadi bandara yang melayani kelas VIP atau penerbangan khusus.

“Jadi bisa dipertegas mana yang ditujukan sebagai VIP flight dan government flight, “ ungkapnya.

Oleh sebab itu alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menilai agar stakeholder terkait perlu melirik kembali kajian yang sudah dibuat untuk Bandara APT Pranoto maupun Bandara SAMS Sepinggan.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengakui perubahan dinamika jalur penerbangan di Bumi Etam dengan kehadiran dua bandara di dua kota besar yakni Samarinda dan Balikpapan.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B. Pramesti menyatakan jumlah penumpang angkutan di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan, mengalami penurunan sejak kehadiran Bandara APT Pranoto di Samarinda. Padahal, Bandara SAMS Sepinggan adalah bandara internasional yang sudah lama beroperasi di Kaltim.

Polana menyebut penurunan ini terlihat dalam pergerakan transportasi udara untuk melayani Angkutan Mudik Lebaran 2019. Tahun ini, Bandara APT Pranoto baru pertama kali melayani angkutan mudik, namun sudah bisa membuat penumpang terbagi.

Pasalnya penurunan penumpang di Balikpapan mencapai sekitar 40%. Umumnya, para penumpang yang pindah melalui APT Pranoto berasal dari Samarinda, Bontang, hingga Sangatta. Oleh sebab itu, Polana berharap Bandara SAMS Sepinggan bisa tetap eksis dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Balikpapan dan sekitarnya.

“Saya berharap perekonomian di Balikpapan dan sekitarnya bergerak tetap naik. Dan traffic penumpang kembali stabil,” ujar Polana.

General Manager Bandara SAMS Sepinggan, Farid Indra Nugraha juga membenarkan penurunan penumpang di SAMS Sepinggan sangat terasa saat Lebaran 2019. Pasalnya, penurunan itu sudah terpantau mulai H-7 Lebaran sampai H+1 Lebaran.

“Penurunan terbesar pada H-2 mencapai 45% dibandingkan tahun lalu,” ujar Farid.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bandara sepinggan, Bandara APT Pranoto

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top