Balikpapan Kembali Deflasi, Koreksi Harga Bahan Makanan Pendorongnya

Kota Balikpapan melanjutkan tren deflasi hingga September 2019. Tren deflasi sebesar -0,03% (mtm)dan tercatat lebih tinggi dibandingkan deflasi periode sebelumnya yang sebesar -0,52% (mtm).
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  20:00 WIB
Balikpapan Kembali Deflasi, Koreksi Harga Bahan Makanan Pendorongnya
Ilustrasi - Bisnis.com/Fariz Fadhillah

Bisnis.com, BALIKPAPAN—Kota Balikpapan melanjutkan tren deflasi hingga September 2019. Tren deflasi sebesar -0,03% (mtm)dan  tercatat lebih tinggi dibandingkan deflasi periode sebelumnya yang sebesar -0,52% (mtm).

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan Bimo Epyanto mengatkan, deflasi pada September 2019 juga sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata deflasi bulan September selama 3 tahun terakhir yang sebesar -0,07% (mtm).

Dia melanjutkan, secara tahunan, inflasi IHK Kota Balikpapan mencatatkan angka sebesar 1,94% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan inflasi Provinsi Kalimantan Timur sebesar 1,73% (yoy) namun lebih rendah dari nasional 3,39% (yoy).

Inflasi tahunan Kota Balikpapan tercatat terendah keempat di Pulau Kalimantan setelah Tanjung, Singkawang dan Samarinda. Secara tahun kalender, inflasi September 2019 mencapai 1,75% (ytd). 

“Berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi bulan September 2019 didorong oleh koreksi harga pada kelompok bahan makanan dengan andil deflasi sebesar -0,21%, yang disumbang oleh penurunan harga komoditas daging ayam ras, ikan layang, ikan tongkol, cabai dan tomat sayur,”jelasnya melalui keterangan resmi Selasa (1/10/2019).

Pasokan bahan makanan yang terjaga di tengah masih lemahnya permintaan mendorong penurunan harga beberapa komoditas bahan makanan tersebut. Namun demikian, deflasi lebih dalam tertahan oleh peningkatan harga sayuran seperti sawi hijau, kangkung dan bayam seiring melambatnya produksi sayuran pada musim kemarau 2019. 

Sementara itu, kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga juga menjadi penahan laju deflasi dengan sumbangan inflasi sebesar 0,05% (mtm), didorong oleh kenaikan biaya pendidikan untuk Perguruan Tinggi  yang meningkat secara tahunan. Pada saat yang sama, kenaikan biaya pada kelompok transport, komunikasi & jasa keuangan dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau turut memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,04%.

Sejalan dengan hal tersebut, kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar juga mengalami kenaikan sebagai dampak penyesuaian biaya sewa rumah yang dilakukan setiap tahun.

 

Bank Indonesia memprediksikan ke depan, terdapat beberapa faktor yang diperkirakan masih akan memberi tekanan inflasi, diantaranya, berlangsungnya musim kemarau  yang puncaknya diperkirakan terjadi bulan Oktober 2019. Selanjutnya, penurunan pasokan daging ayam ras dan masih berlanjutnya tren kenaikan harga emas, serta tingginya gelombang laut.

Sebagai upaya pengendalian inflasi daerah dan memitigasi tekanan risiko inflasi, Tim Pengendalian Inflasi daerah (TPID) Kota Balikpapan telah mengambil beberapa upaya pengendalian harga terutama menghadapi kenaikan harga pada bulan September 2019 yaitu melakukan Rapat Koordinasi Tim Teknis TPID Kota Balikpapan untuk mengantisipasi risiko inflasi triwulan IV/2019.

Diikuti dengan melakukan Training of Trainer mengenai pengelolaan keuangan keluarga dan Kampanye bijak berbelanja oleh PKK Kota Balikpapan dalam program Gerakan Wanita Matilda (Mandiri, Terampil, Berdaya), selain itu juga melakukan pemantauan komoditas secara berkala melalui sistem Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
balikpapan, deflasi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top