2019, Kredit Kaltim dan Kaltara Melambat

Pertumbuhan kredit perbankan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mengalami perlambatan. Agribisnis adalah sektor terbesar penyaluran kredi di daerah ini.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  14:15 WIB
2019, Kredit Kaltim dan Kaltara Melambat
Kepala Kantor OJK Kaltim Made Yoga Sudharma

Bisnis.com, SAMARINDA—Pertumbuhan kredit perbankan di Kalimantan Timur dan Utara mencatatkan perlambatan. Kondisi ini pun menjadi sinyal adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

Adapun pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2019 mencapai 12,11 persen di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara. Angka ini lebih lambat dibandingkan capaian 2018 yang sempat tumbuh 17,33 perser year on year.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim, total kredit yang disalurkan perbankan sepanjang 2019 mencapai Rp134,99 triliun, naik 12,1% dari posisi Rp120,41 triliun. Penyaluran fungsi intermediasi di Kaltim, paling banyak pada sector agribisnis.

Kepala Kantor OJK Kaltim, Made Yoga Sudharma mengatakan bahwa pinjaman yang diberikan bank umum pada tahun lalu, dominan pada sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan dengan jumlah Rp24,82 triliun. Kemudian ke sektor perdagangan besar dan eceran Rp20,78 trilun disusul pertambangan serta penggalian Rp17,68 triliun.

Dia mengklaim bahwa pertumbuhan kredit tersebut cukup bagus. Baru-baru ini, Kaltim bakal menjadi ibu kota negara baru. Harapannya, rencana tersebut bakal berdampak positif pada pertumbuhan kredit dan ekonomi Kaltim, meskipun kini belum terlalu berdampak langsung karena baru diumumkan Agustus 2019.

"Jadi ekonomi kita khususnya kredit perbankan di Kaltim ini belum menuju ke arah sana [mendapat berkah IKN secara langsung]. Secara keseluruhan, khususnya kredit modal kerja naik di Kaltim dan Kaltara [Kalimantan Utara]," katanya saat ditemui Bisnis.com di ruangannya, Kamis (30/1/2020).

Walaupun pertumbuhan perbankan di Kaltim dan Kaltara pada 2019 tidak sebesar tahun sebelumnya, capaian tersebut di atas pertumbuhan kredit nasional yang hanya sebesar 6,08 persen. Pertumbuhannya juga tidak sebagus tahun 2018 yang mencapai 11,8 persen.

Dia menambahkan kalangan korporasi telah mencari sumber pendanaan alternatif, seperti menerbitkan surat utang hingga mencari pinjaman ke luar negeri (offshore) melalui bank asing yang memiliki kantor cabang di Indonesia.

"Dana offshore yang masuk ke sini untuk pembiayaan perbankan di sini naik 133 persen. Itu naik luar biasa. Secara nasional pembiayaan kita itu untuk perbankan naik 9 persen. Di atas 6 persen sebenarnya," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim, ojk, kaltara

Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top