Ekspor Diprediksi Tetap Penopang Utama Ekonomi Kaltim

Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur mencatat ekonomi di wilayahnya pada triwulan IV 2019 bila dibandingkan triwulan IV 2018 (year on year/yoy) tumbuh sebesar 2,67 persen.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  17:46 WIB
Ekspor Diprediksi Tetap Penopang Utama Ekonomi Kaltim
Ilustrasi.

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur mencatat ekonomi di wilayahnya pada triwulan IV 2019 bila dibandingkan triwulan IV 2018 (year on year/yoy) tumbuh sebesar 2,67 persen. Sementara itu jika dibandingkan triwulan III 2019 atau quarter to quarter/q to q tumbuh sebesar 0,12 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Tutuk Cahyono mengatakan bahwa ekonomi kuat didorong sektor pertambangan yang membaik. Selain itu juga perbaikan kinerja ekspor luar negeri di tengah penurunan harga komoditas global.

Di triwulan IV 2019 ekspor Kaltim tercatat hanya tumbuh sebesar 1,37 persen dibandingkan satu periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Atau lebih rendah dibandingkan triwulan III 2019 sebesar 15,24 persen.

Pelambatan terjadi utamanya bersumber dari ekspor batubara ke Tiongkok dari 83,74 persen yoy triwulan III 2019 menjadi 7,61 persen yoy di triwulan IV 2019.

“Hal tersebut sejalan dengan hasil asesmen kita sebelumnya di mana Tiongkok sudah mulai melakukan implementasi restriksi impor di triwulan IV 2019 sejalan dengan kuota impor batubara mereka yang telah melebihi batas,” katanya saat dihubungi.

Tutuk menjelaskan bahwa ada angin segar dari India. Ekspor batu bara triwulan IV 2019 relatif membaik dibandingkan triwulan III 2019. hal tersebut diprakirakan bersumber dari mulai membaiknya kondisi industri di India perubahan iklim ekstrim yang berlangsung dari triwulan II—III 2019 sehingga membutuhkan pasokan batubara lebih banyak.

Produksi batubara berdasarkan data yang BI himpun dari Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) juga Mc Closkey terjadi pelambatan pertumbuhan produksi di triwulan IV 2019. Hal tersebut sejalan dengan hasil quick liaison (survei) BI ke perusahaan pemegang perjanjian karya pertambangan batu bara maupun izin usaha pertambangan melalui Distamben.

Hasilnya sebagian besar menyatakan bahwa target tahunan mereka hampir terpenuhi di triwulan awal 2019. Sehingga terjadi kelambatan produksi di triwulan IV 2019.

Adapula perusahaan besar yang tidak mampu memenuhi target tahunannya karena terkendala produksi. Curah hujan cukup tinggi di akhir tahun serta pola spekulasi yang dilakukan seiring dengan menunggu momen kenaikan akibat harga batu bara terus melemah jadi penyebabnya.

Sementara itu, Tutuk menambahkan bahwa volume ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil/CPO di Kalimantan relatif meningkat. Salah satunya bersumber dari kebutuhan CPO India yang meningkat seiring dengan pembatasan impor CPO dari Malaysia karena hubungan politik yang tengah menegang serta penurunan tarif impor CPO Indonesia ke India.

“Ke depan, pertumbuhan ekonomi Kaltim diperkirakan tetap baik ditopang prospek prospek peningkatan ekspor dan konsumsi rumah tangga. Investasi diprakirakan juga meningkat didorong pembangunan infrastruktur dan perpindahan Ibu Kota Negara ke Kaltim,” ucap Tutuk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top