Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengembangan Sektor Pariwisata di Kaltim Menantang

Dari daftar 10 kawasan pariwisata prioritas nasional, tidak ada destinasi pariwisata Kaltim yang masuk, termasuk Pulau Derawan.
Muhammad Mutawallie Sya'rawie
Muhammad Mutawallie Sya'rawie - Bisnis.com 18 November 2020  |  09:20 WIB
Pulau Derawan.  - Bisnis.com/Gloria F.K. Lawi
Pulau Derawan. - Bisnis.com/Gloria F.K. Lawi

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan ekonomi sektor pariwisata.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kalimantan Timur Aswin menyatakan pariwisata dapat menjadi sektor baru sebagai sumber perekonomian di Kaltim.

“Namun ada beberapa tantangan yang membutuhkan kerja keras untuk mewujudkannya,” ujarnya pada Focus Group Discussion Kajian Potensi Pariwisata Kaltim di Hotel Mercure Samarinda, Selasa (17/11/2020).

Aswin menyebutkan dari daftar 10 kawasan pariwisata prioritas nasional, tidak ada destinasi pariwisata Kaltim yang masuk, termasuk Pulau Derawan.

Dia menilai, agar kedepan Kaltim bisa menjadi salah satu daerah pariwisata yang mendapat perhatian pusat perlu didukung dengan pengembangan destinasi dan pemasaran pariwisata Kaltim.

Selanjutnya, Aswin, mengatakan Kaltim memiliki jumlah objek wisata yang banyak, namun sampai saat ini destinasi wisata di Kaltim masih belum dapat bersaing dengan destinasi wisata di luar daerah.

“Perlu adanya inovasi pengemasan yang beragam dan unik sehingga minat wisatawan dapat beralih ke Kaltim,” tuturnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait objek daya tarik wisata pada tahun 2018, jumlah usaha/perusahaan objek daya tarik wisata komersial dan kepemilikan sertifikasi usaha pariwisata di Kaltim hanya sekitar 23 usaha/perusahaan, dimana 9 diantaranya tidak memiliki sertifikasi usaha.

Sebagai contoh, jika dibandingkan dengan Provinsi Bali, dari 337 usaha/perusahaan daya tarik wisata komersial yang tecatatat di Bali terdapat 128 usaha/perusahaan yang telah memiliki sertifikasi.

Terdapat indikasi, bahwa sektor informal di sektor pariwisata memiliki porsi cukup besar dan masih dinilai cukup sulit untuk merekam setiap perkembangan pariwisata yang terjadi.

Selanjutnya, infrastruktur sebagai pendukung sektor pariwisata di Kaltim membutuhkan biaya pembangunan yang tidak sedikit karena wilayah yang sangat luas dan sebaran antar objek wisata yang saling berjauhan.

Minimnya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata yang terampil dan tersertifikasi juga menjadi tantangan yang harus diselesaikan. Dari data 23 usaha/perusahaan objek daya tarik wisata yang memiliki legal status, tercatat hanya 8 orang pekerjanya yang memiliki sertifikasi kompetensi pariwisata.

Tentunya, Kaltim juga memiliki peluang untuk mengembangkan pariwisata menjadi salah satu primadona dengan potensi destinasi wisata yang berjumlah tidak sedikit, terutama destinasi wisata alam.

Data BPS menunjukkan hingga tahun 2019, ada 89 objek wisata buatan, 2 objek wisata taman laut, 7 objek wisata hutan raya, 24 objek wisata religi, 68 objek wisata budaya, 69 objek wisata bahari, 2 objek wisata sungai dan arung jeram, 103 objek wisata alam,19 objek wisata hutan mangrove

Hal tersebut ditunjang dengan jumlah kunjungan wisata yang cenderung meningkat, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Khusus wisatawan mancanegara, terjadi peningkatan kunjungan sebanyak 12,20 persen pada 2019 dibandingkan tahun sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata kaltim
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top