Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Panas Batu Bara Topang Devisa Kaltim

Provinsi Kalimantan Timur masih sangat mengandalkan pertambangan batu bara sebagai daya ungkit perekonomian.
M. Mutawallie Syarawie
M. Mutawallie Syarawie - Bisnis.com 02 November 2022  |  17:58 WIB
Panas Batu Bara Topang Devisa Kaltim
Alat berat memindahkan batu bara ke dump truck di tambang batubara yang dioperasikan oleh PT Khotai Makmur Insan Abadi di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (13/10/2021). Bloomberg - Dimas Ardian
Bagikan

Bisnis.com, SAMARINDA –– Provinsi Kalimantan Timur masih sangat mengandalkan pertambangan batu bara sebagai daya ungkit perekonomian.

Bank Indonesia (BI) Kaltim mencatat ekspor nonmigas batu bara sebagai penyumbang devisa terbesar hingga kuartal II/2022.

Dalam periode tersebut, volume ekspor nonmigas terkontraksi 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini dinilai lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatatkan kontraksi hingga 26,57 persen (yoy).

“Perbaikan tersebut utamanya bersumber dari kinerja ekspor batu bara yang lebih baik seiring dengan telah berlalunya pelarangan ekspor pada kuartal sebelumnya,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltim dalam keterangan resmi, Rabu  (2/11/2022).

Berdasarkan data yang dihimpun Bank Indonesia, kinerja ekspor Kaltim tercatat mengalami pertumbuhan hampir dua kali lipat dari kuartal sebelumnya, yaitu 0,84 persen menjadi sebesar 1,66 persen (yoy) pada kuartal II/2022.

Dia menambahkan, peningkatan volume ekspor batu bara ke sejumlah negara tujuan dan diiringi oleh harga yang berada di level tinggi menjadi sumber utama akselerasi ekspor Kaltim.

Secara umum kenaikan volume ekspor batu bara secara total didorong oleh kenaikan pengiriman ke India, Taiwan dan ASEAN dimana masing-masing tercatat tumbuh sebesar 60,75 persen (yoy), 14,33 persen (yoy) dan -9,97 persen (yoy).

Kondisi ini sejalan dengan peningkatan harga batu bara Internasional sebesar US$288,96/mt atau tumbuh 174,94% (yoy) pada kuartal II/2022.

“Level harga batu bara tersebut juga merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan kebutuhan batu bara dunia yang tinggi di tengah adanya disrupsi pasokan energi dunia akibat ketidakstabilan geopolitik,” terang Ricky.

Sebagaimana diketahui, ekspor hasil Tambang tercatat senilai US$2.657,78 juta pada September 2022.

Untuk periode Januari–September 2022, komoditas hasil tambang tetap menjadi andalan ekspor Kaltim dengan peranan sebesar 76,13 persen.

Dari sisi investasi, sektor pertambangan menyumbang investasi terbesar di kuartal II/2022 senilai Rp3,76 triliun untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Kabid Pengendalian Pelaksanaan DPMPTSP Kaltim Surya Saputra menyatakan sektor pertambangan berkontribusi terhadap realisasi investasi seluruh sektor usaha yaitu sebesar 42,61 persen.

“Secara sektoral pertambangan masih tertinggi (nilai investasinya),” katanya.

Kemudian, Penanaman Modal Asing (PMA) untuk sub sektor pertambangan sebesar US$97,27 juta atau Rp1,39 triliun (42,76 persen) dari keseluruhan realisasi PMA.

Di sisi lain,  investasi dalam negeri pada sub sektor pertambangan mendorong penyerapan tenaga kerja terbanyak, yaitu 1.908 orang atau 36,90 persen dari total jumlah tenaga kerja Indonesia.

Selanjutnya, BI Kaltim mencatat penyaluran kredit kepada lapangan usaha pertambangan tumbuh hingga 106,16 persen, naik dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 70,50 persen (yoy).

Dia menambahkan, capaian tersebut melanjutkan tren pertumbuhan positif semenjak kuartal IV/2021 yang sebelumnya sering kali mengalami kontraksi.

Ricky mengungkapkan bahwa pertumbuhan itu diiringi dengan tingkat NPL (Non Performing Loan) yang rendah secara tahunan (year-on-year/yoy), yaitu sebesar 0,67 persen atau lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 1,89 persen.

PILIHAN LAIN

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Mulawarman Purwadi menyatakan ketergantungan Kaltim terhadap sumber daya alam (SDA) merupakan pola pertumbuhan ekonomi lama.

“Dan ini tentu berbahaya bagi Kaltim, bagi generasi anak-anak cucu kita,” katanya.

Dia meminta, para pejabat publik di daerah maupun pemerintah pusat untuk bisa menyediakan solusi terkait pengurangan hingga menghentikan pemanfaatan terus menerus terhadap sumber daya alam.

Terlebih lagi, Purwadi menyebutkan dampak buruk terkait alam yang ditimbulkan dari kegiatan pertambangan hingga konsesinya yang dimiliki oleh orang-orang dari luar Kaltim.

“Harus beralih dari ekonomi ekstraktif ke ekonomi kreatif. SDM jangan hanya menjadi pekerja,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kaltim batu bara
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top