Pasar Properti Kaltim Belum 'Booming' Lagi

Pasar properti di Kalimantan Timur belum banyak beranjak sejak mengalami stagnasi pada 2015 akibat terpukulnya harga minyak dan gas bumi serta batu bara.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  18:49 WIB
Pasar Properti Kaltim Belum 'Booming' Lagi
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) meninjau proyek rumah tapak Pesona Bukit Batuah di Balikpapan, Kalimantan Timur. - ANTARA

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Pasar properti di Kalimantan Timur belum banyak beranjak sejak mengalami stagnasi pada 2015 akibat terpukulnya harga minyak dan gas bumi serta batu bara.

Wacana pemindahan ibu kota baru diharapkan bisa menjadi salah satu pendorong tingkat permintaan sektor ini selama jangka panjang.

Ketua DPD Real Estate Indonesia provinsi Kalimantan Timur Bagus Susetyo mengumpamakan layaknya ada gula ada semut, tingginya harga komoditas selama periode tersebut menyebabkan banyak pengembang nasional yang memanfaatkan momentum tersebut untuk berekspansi ke bumi etam. Sebut saja, Sinar Mas Land, Agung Podomoro Land hingga Ciputra Group.

Balikpapan dan Samarinda sempat mengalami booming properti pada 2010-2015 dengan membidik kalangan induk usaha yang berkaitan dengan perusahaan minyak dan gas bumi serta batubara. Pertumbuhan pasar properti di Kalimantan Timur pun sangat bergantung pada pergerakan harga komoditas sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi.

Namun, saat ini, harga komoditas masih mengalami perlambatan membuat target penjualan para pengembang belum sesuai dengan yang diharapkan pada awal tahun ini.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pergerakan Harga batubara acuan (HBA) per Juli 2019 kembali tergerus sebesar 11,73% menjadi US$71,92 per metrik ton, dibandingkan dengan HBA bulan sebelumnya yang berada di level US$ 81,48 per metrik ton. Secara statitisik bulanan, HBA Juli 2019 melanjutkan tren penurunan sejak September 2018. HBA mampu terangkat naik pada Agustus 2018, di level US$ 107,83 per ton.

Hal ini diikuti pula oleh Indeks Harga Properti di Balikpapan dan Samarinda yang belum banyak berubah selama 3 bulan pertama tahun ini. IHP di Balikpapan bertengger pada level 118,75 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya pada 118,72 sedangkan IHP di Samarinda sudah mengalami stagnasi sejak kuartal II/2018 dan masih bertengger di level yang sama, yakni 103,30 selama kuartal I/2019.

“Sekarang sudah nggak bagus sejak 2015, penjualan hunian menengah atas turun 80%. Menjual satu unit dua unit saja sudah bagus ya. Kondisi sekarang ini aset masih banyak, konsumen terbatas. Daya beli masyarakat Kaltim turun. Ini problemnya ekonomi melambat pertumbuhan nggak besar hanya 3,1%,” jelasnya Kamis (25/7/2019).

Bagus mengungkapkan tidak banyak lagi ceruk pasar dari ekspatriat yang bisa disasar akibat rasionalisasi karyawan besar-besaran oleh perusahaan minyak sawit dan batubara global sejak jatuhnya harga kedua komoditas tersebut. Penjualan untuk unit komerisal dan ruko juga menunjukkan hal serupa.

Dengan demikian, para pengembang pun mulai menyasar ceruk lain yakni masyarakat lokal Kalimantan di segmen menengah. Terutama, ungkap dia, saat ini banyak masyarakat yang membeli rumah untuk ditinggali (end user) ketimbang untuk berinvestasi. Sehingga harga hunian di atas Rp1 miliar kurang menjual.

Pengembang lokal, lanjut dia juga mulai mengarah membangun rumah subsidi dan rumah tipe kecil sederhana di kisaran Rp300 juta ke bawah untuk bisa bertahan. Namun, tentu saja, untuk rumah sederhana tersebut mendapat tantangan dari belum siapnya infrastruktur yang memadai.

Sementara itu, Direktur Independen Ciputra Grup Tulus Santoso mengatakan, sudah memulai pengembangan properti di Kalimantan sejak 2011. Dia masih optimistis potensi pasar yang masih membaik secara jangka panjang, karena karakteristik Kalimantan sebagai penghasil komoditas yang utama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalimantan timur, pasar properti

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top