Ekspor Nonmigas Kaltim Tak Sedalam Migas

Penurunan ekspor non migas di Kalimantan Timur tidak sedalam dibandingkan dengan ekspor migas berkat produksi emas hitam yang mulai membaik.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  16:00 WIB
Ekspor Nonmigas Kaltim Tak Sedalam Migas
Batu bara - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, BALIKPAPAN— Penurunan ekspor non migas di Kalimantan Timur tidak sedalam dibandingkan dengan ekspor migas berkat produksi emas hitam yang mulai membaik.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur Tutuk Cahyono mengatakan, kendati sejalan dengan tren penurunan migas, tetapi penurunan ekspor non migas lebih  disebabkan oleh tren penurunan harga komoditas di pasar internasional.

Namun, lanjut dia, berdasarkan volumenya, ekspor non migas Kaltim masih berada dalam tren meningkat bahkan tumbuh lebih positif.

“Tren tersebut terutama disebabkan oleh membaiknya produksi batubara,”ungkapnya kepada Bisnis Senin (7/10/2019).

Jika mengacu pada data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batu bara Indonesia hingga awal Agustus mencapai 237,55 juta ton, atau sekitar 48,51% dari target produksi tahun ini yang mencapai 489,73 juta ton. Kendati demikian harga acuan batu bara masih merosot dan berada di angka US$ 65,79/metrik ton.

Namun, diproyeksikan peningkatan permintaan batu bara akan terjadi menjelang musim dingin untuk kebutuhan penghangat ruangan.

Adapun secara nominal, memang ekspor Kaltim sedang berada dalam tren menurun, bahkan mengalami pertumbuhan negatif, yang terutama disebabkan oleh penurunan dari sektor  migas.

Menurutnya  penurunan produksi minyak sebagai proses alamiah (natural declining) dan kebijakan pembelian minyak kerja sama pemerintah swasta (KPS) oleh pemerintah melalui PT Pertamina serta penurunan harga minyak di pasar internasional.

Menurutnya, masih banyak produk kaltim yang melimpah, yakni cpo, batubara, migas, perikanan, lada, karet dan lainnya berpotensi untuk dilakukan industri olahan.

“Selain itu, penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak dengan tetap memperhatikan aspek daya dukung lingkungan, disertai jalan keluar untuk tidak terjebak kepada komoditas mentah yang terus tertekan,”jelasnya.

Menurut Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor, nilai ekspor minyak dan gas bumi di Kaltim masih besar peranannya dalam menopang defisit perdagangan nasional kendati demikian posisi ekonomi Kalimantan Timur paling rendah di seluruh provinsi pada 2018 lalu.

Padahal, lanjut dia, masih menyumbang surplus perdagangan nasional yakni US$14,3 miliar. Adapun kalkulasi itu, lanjut dia, bila dihitung dari nilai ekspor yang telah dikurangi dengan nilai impor US$4,3 miliar.

Sedangkan bila dihitung komoditas yang diekspor melalui luar Kalimantan Timur seperti Surabaya, Jakarta dan Batam, maka capaiannya US$12,5 miliar.

"Artinya, bisa menanggung defisit perdagangan nasional hampir US$30 miliar atau lebih dari Rp450 triliun, menjadi penyangga kekuatan ekonomi dari defisit perdagangan nasional,"jelasnya.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro membenarkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur paling rendah se Indonesia yakni 2,7 persen pada 2018 lalu. Pasalnya, terlalu bergantung pada komoditas.

"Kami harapkan IKN bisa membuat perubahan ekonomi Kalimantan Timur lebih ke diversifikasi," ujarnya.

Pemerintah telah melakukan simulasi dampak IKN terhadap pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur. Hasilnya, bisa naik antara 8 sampai 9 persen selama masa konstruksi dan masa operasi.

"Bagaimana pun ada sektor jasa di IKN, namanya jasa pemerintahan yang jumlahnya tidak kecil," lanjutnya.

Selain itu, angkatan kerja bisa memanfaatkan kesempatan dalam pembangunan kawasan IKN yang pusat pemerintahannya berada di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.

"Ada kontaktor, ada sub kontraktor. Harapan kami, pengusaha di Kalimantan Timur ikut berkontribusi dan angkatan kerja yang terampil juga harus mempersiapkan diri," sebutnya.

Adapun Nilai ekspor di Bumi Etam mengalami penurunan sejalan dengan penurunan di sektor migas, pertambangan dan industri pengolahan.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor provinsi Kalimantan Timur pada Agustus 2019 mencapai US$1,28 miliar atau mengalami penurunan sebesar 9,55% dibandingkan dengan ekspor pada Juli 2019.

Sementara bila dibanding Agustus 2019 mengalami penurunan sebesar 8,41%.

Secara terperinci, nilai ekspor barang migas Agustus 2019 mencapai US$ 0,15 miliar, turun 12,86 persen dibanding Juli 2019. Sementara ekspor barang non migas Agustus 2019 mencapai US$ 1,13 miliar, turun 9,09 persen dibandingkan dengan Juli 2019.

Secara kumulatif nilai ekspor Provinsi Kalimantan Timur periode Januari-Agustus 2019 mencapai US$ 10,93 miliar atau turun 9,33 persen dibanding periode yang sama tahun 2018.

Dari seluruh ekspor periode Januari-Agustus 2019, ekspor barang migas mencapai US$1,36 miliar atau turun 12,86% dan barang non migas mencapai US$ 9,57 miliar atau turun sebesar 9,09% dibandingkan dengan periode yang sama pada2018.

Negara tujuan ekspor migas terbesar adalah Jepang ( 66,33% ) China ( 33,66% ) Singapore ( 0,01% ) sedangkan untuk non migas adalah China ( 31,67% ),India ( 17,43% ), Taiwan ( 8,37% ), Jepang ( 8,26% ) Filipina( 8,10%).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kaltim, ekspor nonmigas

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top