Bisnis.com, BALIKPAPAN –– Nilai ekspor nonmigas Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada periode Januari-September 2023 mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Marinda Dama Prianto menyatakan penurunan ekspor nonmigas sebesar 24,71% disumbang oleh turunnya ekspor hasil tambang sebesar 24,53% dan ekspor hasil industri sebesar 25,84%.
“Hasil tambang masih menjadi komoditas andalan ekspor Kaltim dengan peranan sebesar 74,96%, diikuti oleh hasil industri dengan peranan sebesar 15,43%, dan migas dengan kontribusi 9,54%,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (19/10/2023).
Pada bulan September 2023, nilai ekspor nonmigas Kaltim juga mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya maupun bulan yang sama tahun lalu.
Nilai ekspor nonmigas Kaltim pada September 2023 adalah sebesar US$1,62 miliar, turun sebesar 5,88 % dari Agustus 2023 yang sebesar US$1,73 miliar, dan turun sebesar 23,66% dari September 2022 yang sebesar US$2,13 miliar.
“Jika dirinci menurut sektor dan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, penurunan nilai ekspor nonmigas pada September 2023 disebabkan oleh turunnya nilai ekspor hasil industri dan hasil pertanian yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 21,71% dan 6,25%,” terang Marinda.
Baca Juga
Sementara itu, dia menyebutkan jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, penurunan nilai ekspor nonmigas disebabkan oleh turunnya nilai ekspor pada hasil tambang dan hasil industri dengan penurunan masing-masing sebesar 48,87% dan 20,37%.
Meskipun demikian, ada beberapa negara tujuan utama yang mengalami peningkatan nilai ekspor dari Kaltim pada September 2023 dibandingkan dengan Agustus 2023.
Negara-negara tersebut adalah India yang naik sebesar US$88,43 juta (42,17%), Bangladesh yang naik sebesar US$37,71 juta (66,10%), dan Korea Selatan yang naik sebesar US$30,35 juta (78,01%).
Selain itu, nilai ekspor Kaltim ke kawasan Uni Eropa juga naik sebesar US$18,68 juta (74,18%). Namun demikian, nilai ekspor ke kawasan Asia Tenggara mengalami penurunan sebesar US$19,20 juta (5,68%).
Secara kumulatif Januari–September 2023, ekspor nonmigas ke 13 negara tujuan utama turun sebesar 22,09% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.