Kemenperin Dorong IKM Kalsel Go-Digital

Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin terus berupaya melakukan transformasi digital bagi industri kecil dan menengah (IKM) agar siap menghadapi perkembangan teknologi di era industri 4.0.
Arief Rahman
Arief Rahman - Bisnis.com 13 September 2019  |  14:10 WIB
Kemenperin Dorong IKM Kalsel Go-Digital
Kemenperin RI membuka secara resmi kegiatan IKM Go Digital di Kota Banjarmasin - Arief Rahman

Bisnis.com, BANJARMASIN- Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) terus berupaya melakukan transformasi digital bagi industri kecil dan menengah (IKM) agar siap menghadapi perkembangan teknologi di era industri 4.0.

Salah satunya dengan terus aktif menggelar kegiatan pelatihan e-Smart IKM dengan tema “IKM Go Digital” di sejumlah daerah, tidak terkecuali di Provinsi Kalsel.

“e-Smart IKM memberikan jaminan produk, jaminan keamanan dan jaminan standard. Konsep dari pembinaan e-Smart IKM ini kini kita balik dari hilir ke hulu, maksudnya IKM harus memahami kebutuhan pasarnya dahulu, baru setelah itu mereka memproduksi produknya,” kata Direktur Jenderal IKM Gati Wibawaningsih di sela pembukaan kegiatan e-Smart IKM “IKM – Go Digital”, Jumat, (13/9/2019) di Hotel Golden Tulip Banjarmasin.
 
Program e-Smart IKM sendiri diproyeksikan untuk menjadikan IKM semakin kuat. Selain itu kegiatan ini merupakan salah satu Langkah strategis yang sesuai dengan salah satu program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0, yakni memberdayakan IKM melalui pemanfaatan teknologi terkini.

“Kami juga kolaborasikan mereka dengan aplikasi Point of Sale (POS), aplikasi promosi digital, dan teknologi informasi yang akan memberikan edukasi melalui format digital yang dapat diakses melalui internet,” ungkapnya.

Menurut data dari BPS yang diolah oleh Ditjen IKMA, hingga tahun 2017, jumlah IKM di Kalsel tercatat sebanyak 88.379 unit usaha dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 150.145 orang.

Melihat besarnya IKM yang tercatat tersebut pelaku IKM di Kalsel diharapkan mampu membuka diri dan berkolaborasi untuk memulai proses transformasi digital misalnya dengan bantuan startup sebagai penyedia teknologi  atau pemecah masalah.

Transformasi digital di sektor IKM menjadi bagian langkah strategis dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional, karena jumlah IKM di dalam negeri lebih dari 4,4 juta unit usaha atau mencapai 99% dari seluruh populasi industri di Indonesia.

“Kolaborasi antar berbagai pihak sangat diperlukan untuk mengubah tantangan menjadi peluang. Oleh karena itu, konektivitas menjadi pondasi utama dalam upaya penerapan industri 4.0,” jelasnya.

Program e-Smart IKM yang diinisiasi Kemenperin sejak dua tahun lalu itu sudah mejalin kerja sama dengan para pelaku e-commerce di Indonesia, seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia.

“Sebelumnya kegiatan serupa telah dilaksanakan di Semarang, Makassar, Surabaya, Pontianak, Bogor, Denpasar, Palembang dan Medan. Kemudian haru ini kita laksanakan di Banjarmasin, dengan Peserta yang mengikuti di antaranya adalah pelaku IKM dan masyarakat umum di wilayah Kalsel,” ucapnya.

Sementara itu, Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel Heriansyah mendukung upaya Kemeperin RI dalam membantu para IKM di Banua untuk bisa memanfaatkan teknologi dalam rangka mengembangkan pasar produknya agar lebih luas lagi.

Sebagai salah satu daerah yang ingin menjadi sentral industri di wilayah Kalimantan dalam menopang Ibu Kota Negara baru, kolaborasi antara pemerintah daerah dan pusat haruslah dilakukan agar IKM lokal bisa tumbuh dan berkembang dan tidak kalah dalam bersaing dengan berbagai produk luar yang masuk ke Indonesia.

“Kami dari Pemrprov Kalsel sendiri juga rutin melakukan pembinaan kepada para IKM lokal yang produknya punya potensi masuk ke pasar global, salah satunya produk handycraft,” tambahnya.

Para pengrajin produk handycraft tadi melalui Dinas Perindustrian dilatih agar tidak hanya bisa membuat lampit berbahan rotan, namun juga diarahkan untuk membuat tas fashion berbahan dasar rotan. Tas fashion inilah yang kemudian dijual ke pasar global dengan bantuan pihak ketiga.

“Harga jualnya jauh lebih mahal ketimbang dibuat lampit saja, selain itu kebutuhannya pun sangat besar di pasar global. Berbagai cara inilah yang kita lakukan agar IKM kita di Banua bisa berkembang dan mampu menembus pasar global,” tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kalimantan Selatan, kemenperin

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top