Pelatihan Gerakan Wanita Matilda Beri Pemahaman Tentang Hama dan Penyakit Tanaman Cabai

Setelah awal pekan ini memberikan pelatihan di Kelurahan Prapatan, kali ini, Jumat (4/10), Program Gerakan Wanita Matilda memberikan pelatihan untuk 40 perempuan yang berasal dari empat kelurahan, yakni Kelurahan Damai Baru, Kelurahan  Damai Bahagia, Kelurahan  Sepinggan Baru, dan Kelurahan  Sumber Rejo.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  18:44 WIB
Pelatihan Gerakan Wanita Matilda Beri Pemahaman Tentang Hama dan Penyakit Tanaman Cabai
Penyuluh Pertanian Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DP3) Kota Balikpapan Evifatiani (kiri) dan Sugeng Riyano (kanan) memberikan materi tentang budi daya cabai dalam pot dan penanganan penyakit serta hama pada peserta Program Gerakan Wanita Matilda, Jumat (4/10). - JIBI/Anitana Widya Puspa

Bisnis.com, BALIKPAPAN—Peserta Gerakan Wanita Matilda Balikpapan selain memperoleh pengetahuan mengenai budi daya cabai dalam pot juga mendapatkan pemahaman dan pengenalan hama dan penyakit yang rentan menyerang cabai sehingga mengurangi produksi.

Gerakan Wanita Matilda atau mandiri, terampil, dan berdaya merupakan insiasi dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan. Setelah awal pekan ini memberikan pelatihan di Kelurahan Prapatan, kali ini, Jumat (4/10), pelatihan diberikan kepada 40 perempuan yang berasal dari empat kelurahan, yakni Kelurahan Damai Baru, Kelurahan  Damai Bahagia, Kelurahan  Sepinggan Baru, dan Kelurahan  Sumber Rejo.

Penyuluh Pertanian Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DP3) Kota Balikpapan Evifatiani mengatakan bahwa ada sejumlah hama yang menyerang tanaman cabai sehingga mengganggu pertumbuhan hingga  mematikan tanaman.

Pertama, kutu daun bersik yang berwarna kuning kehijauan. Biasanya hama ini berkelompok di bawah daun. Tanaman cabai yang terserang hama ini ciri-cirinya adalah daunnya yang berwarna kekuningan, keriput, dan terpuntir. Hama jenis ini harus dikendalikan dengan membersihkan gulma dalam pot serta mengumpulkan dan membakar kutu yang menempel di daun.

Cabai juga harus disemprot dengan insektisida nabati berbahan dasar daun pepaya, sirsak atau pestisida nabati LSM (lengkuas, serai, mimba). Selain itu, petani juga dapat menanam kenikir atau bunga tembelekan disela pertanaman cabai hingga pemasangan perangkap kuning 1 buah per 50 meter persegi.

Kedua, lalat buah berwarna coklat kekuningan dengan garis kuning membujur di bagian punggungnya. Tanaman cabai yang terkena lalat ini memiliki titik hitam pada pangkal buah. Cara pengendaliannya cukup mudah dilakukan dengan menggunakan lem serangga, memungut buah yang terserang dan memusnahkannya.

“Ulat Grayak juga merupakan salah satu yang menyerang dalam jumlah yang banyak, terutama pada bagian daun dan buah.  Gejalanya daging daun di bagian bawah berwarna agak putih karena habis dimakan ulat,” jelasnya.

Keempat, Kutu Kebul—serangga dewasa berwarna putih dengan sayap berwarna jernih yang ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Tanaman cabai yang terkena kutu kebul gejalanya  ditandai adanya bercak coklat pada daun.

"Ada banyak bahan yang bisa digunakan sebagai pestisida nabati yakni Mimba, Mindi, Lengkuas dan Serai Wangi," tuturnya.

Peserta Gerakan Wanita Matilda menyimak materi tentang pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai dalam pot.

HEMAT PENGELUARAN

Sementara itu, istri Lurah Sepinggan Baru Fajar Iswahyurina mengatakan bahwa sudah lama warganya menanam bumbu dapur, seperti sereh dan lengkuas, secara mandiri sehingga mengurangi aktivitas berbelanja ke pasar. Dengan adanya sosialisasi dari Bank Indonesia melalui Program Gerakan Wanita Matilda ini, kesadaran untuk melakukan penghematan dapat dilakukan.

“Harga mahal karena kebutuhan tinggi. Jadi, alangkah baiknya kalau bisa menanam sendiri. Alhamdulilah dapat ilmunya dari BI [Bank Indonesia]. Kami sudah  sosialisasi setiap ada pertemuan PKK atau Posyandu di kelurahan mengenai masalah pengendalian kebutuhan pokok supaya tidak melonjak juga mengatur keuangan,” jelasnya

Pihaknya sudah melakukan penanaman cabai pada 200 polybag pada tahap pertama dan sudah mulai bertunas. Adapun untuk bibit yang baru diantar pada awal bulan ini baru tumbuh beberapa helai daun karena batangnya juga belum tinggi.

 “Kami taruh di RT 12. Ibu-ibu di situ yang berpartisipasi bersama. Kami bergilir menanam dan merawatnya antara kader-kader PKK kelurahan dengan RT,” katanya.

Fajar menyebutkan tidak ada kendala berarti dalam penanaman kali ini. Hanya saja, cuaca memang kurang mendukung karena musim kemarau sehingga air kolam yang digunakan untuk menyiram tanaman volumenya lebih sedikit.

Kendati demikian, dia mengakui masih belum seluruh wanita yang ada di kelurahannya paham akan praktik menanam cabai. Dia mencontohkan ketika melakukan pembibitan, ada bibit yang tumbuh bagus da nada yang juga yang tidak. Alasannya, sebagian besar wanita di kelurahannya adalah pekerja kantoran.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia balikpapan

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top