Program Wanita Matilda Tambah Lahan Produktif di Balikpapan

Para wanita Matilda dari 20 kelurahan yang  turut serta dalam GWM menata lahan pekarangan maupun lahan tidur lainnya menjadi kebun yang apik dan tertata.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 13 Desember 2019  |  22:29 WIB
Program Wanita Matilda Tambah Lahan Produktif di Balikpapan
GWM mengubah kawasan yang sebelumnya tempat pembuangan sampah menjadi kawasan urban farming yang apik dilengkapi dengan spot menarik sehingga berpotensi menjadi tempat eduwisata. - JIBI/Istimewa

Bisnis.com, BALIKPAPAN—Kegiatan urban farming Gerakan Wanita Matilda (Mandiri, Terampil, dan Berdaya) dilanjutkan oleh masing-masing peserta pasca-penganugerahan yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan pada 30 November 2019.

Para wanita Matilda dari 20 kelurahan yang  turut serta dalam GWM menata lahan pekarangan maupun lahan tidur lainnya menjadi kebun yang apik dan tertata.

Kepala Bank Indonesia Balikpapan Bimo Epyanto mengatakan GWM Kelurahan Baru Tengah berhasil mengubah kawasan yang sebelumnya tempat pembuangan sampah menjadi kawasan urban farming yang apik dilengkapi dengan spot menarik sehingga berpotensi menjadi tempat eduwisata.

“Pada GWM Kelurahan Sepinggan dan GWM Mekar Sari juga menjadikan lahan tidur yang awalnya hanya semak belukar menjadi lahan produktif untuk bercocok tanam berbagai jenis sayuran dan cabai,” katanya, Jumat (13/12/2019).

Pada GWM Kelurahan Sumber Rejo bahkan membuat empat buah kawasan urban farming yang tersebar pada 3 RT (Rukun Tetangga).

Keberadaan urban farming ini pun menjadi cikal bakal lumbung kelurahan untuk tanaman sayur dan cabai secara mandiri.

Dalam kegiatan urban farming, para Wanita Matilda berhasil mengimplementasikan hasil ToT urban farming dengan baik antara lain membuat pupuk organik, pestisida organik dan implementasi teknik penyiraman tanaman.

Masing-masing peserta GWM telah membuat jadwal untuk merawat tanaman agar pertumbuhan tanaman dapat optimal. Urban farming tersebut dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan sendiri serta menjadi sumber alternatif penghasilan tambahan.  Hampir di seluruh urban farming GWM telah berhasil menjual hasil panen cabai rawit dan tomatnya ke warga-warga di lingkungan sekitar dengan harga di bawah pasar sehingga berkontribusi dalam pengendalian inflasi daerah.

Selain menjual hasil panen, Wanita  Matilda juga secara inovatif dan kreatif menghasilkan produk-produk olahan makanan yang bernilai tambah dari hasil panen urban farming.

Diantaranya adalah abon cabai dari kelurahan Damai Baru, selai tomat dari kelurahan Lamaru, peyek daun cabai dari kelurahan Graha Indah dan banyak inovasi lainnya.

Produk olahan makanan bernilai tambah hasil panen urban farming./JIBI-Istimewa

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Balikpapan Arita Rizal Effendi juga berharap kegiatan ini dapat mendorong ekonomi kreatif yang dapat meningkatkan ekonomi.

Selanjutnya, Gerakan Wanita Matilda diharapkan terus berlangsung dan berkontribusi bagi pengendalian inflasi daerah terutama melalui pengendalian ekspektasi masyarakat dengan imbauan belanja bijak, penambahan pasokan komoditas volatil terutama sayuran dan cabai secara mandiri sehingga pencapaian inflasi Kota Balikpapan dapat rendah dan stabil.

“Selain itu, Bank Indonesia berharap gerakan ini dapat mendorong pemberdayaan wanita di Kota Balikpapan menjadi para wanita yang mandiri, terampil dan berdaya,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia balikpapan

Editor : Media Digital
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top