Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Terobos Banjir, Penyuluh Pertanian Gunakan Batang Pisang

Dikepung banjir selama empat hari, dua penyuluh pertanian nekad menggunakan batang pisang untuk pulang.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  05:32 WIB
Petugas penyuluh pertanian Desa Bayat Imam Rosyidin dan rekannya Arief Sulistiyarto saat menerjang banjir setinggi dua meter menggunakan rakit batang pisang, di jalan trans Desa Bayat-Jalan Kecamatan Belantikan Raya, Minggu (12/7/2020). - ANTARA/Istimewa
Petugas penyuluh pertanian Desa Bayat Imam Rosyidin dan rekannya Arief Sulistiyarto saat menerjang banjir setinggi dua meter menggunakan rakit batang pisang, di jalan trans Desa Bayat-Jalan Kecamatan Belantikan Raya, Minggu (12/7/2020). - ANTARA/Istimewa

Bisnis.com, NANGA BULIK, Kalteng - Terjebak banjir hingga empat hari sementara perbekalan sudah menipis membuat dua penyuluh pertanian nekad menerobos tingginya genangan air walau tak bisa berenang.

Banjir yang melanda 33 desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, membuat dua  petugas penyuluh pertanian ini terjebak selama empat hari saat menjalani tugas di Desa Bayat Kecamatan Belantikan Raya.

Kedua petugas penyuluh pertanian ini berada di Desa Bayat sebelum banjir terjadi. Cepatnya air naik merendam rumah masyarakat membuat mereka harus bertahan di desa tersebut.

Demikian dikisahkan Lani Rosa Ria Indah, istri Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Desa Bayat di Nanga Bulik, Imam Rosyidin, Minggu (12/7/2020) kepada Antara.

"Sekitar empat hari suami saya yang bertugas di BPP Desa Bayat terjebak banjir. Air di mana-mana dan mereka terkepung hingga tidak bisa kembali ke Nanga Bulik," tambahnya.

Lantaran kebutuhan logistik sudah semakin menipis, Imam Rosyidin bersama rekan penyuluhnya, Arief Sulistiyarto, nekat kembali ke Nanga Bulik walau banjir mengepung permukiman. Masalahnya, kedua petugas ini tidak bisa berenang.

Menurut Lani, satu-satunya cara untuk bisa keluar dari kepungan banjir tersebut, mereka harus menggunakan batang pisang yang dibuat menjadi rakit.

Sayangnya, tatkala lolos dari titik banjir yang satu, mereka sudah dihadapkan pada titik banjir yang lain, sementara kendaraan roda dua yang mereka gunakan sebagai transportasi sudah mogok akibat kemasukan air dan harus ditinggal di bengkel yang masih buka.

Hingga kini, Lani mengaku belum mengetahui kabar suaminya sudah sampai di mana karena komunikasi melalui sambungan telepon seluler tidak bisa dilakukan akibat keterbatasan jaringan. 

"Mereka berdua ini tidak bisa berenang, mereka keluar dari kepungan banjir menggunakan rakit dari batang pisang, hingga saat ini saya belum tahu mereka sudah sampai di mana, karena komunikasi sudah tidak bisa," keluhnya.

Lani mengungkapkan bahwa ia mendapat kabar suaminya nekat pulang di tengah kepungan banjir tersebut dari salah satu rekan suaminya sesama penyuluh yang berada di Nanga Bulik.

Bahkan rekannya tersebut memposting foto perjuangan rekannya di media sosial saat berenang mendorong rakit batang pisang, dengan barang-barang yang mereka dekap erat di jalan trans Bayat menuju jalan poros kecamatan Belantikan Raya setinggi dua meter.

Lani berharap suaminya bersama rekannya diberikan kesehatan dan keselamatan hingga sampai di rumah dan berkumpul bersama keluarganya kembali.

Saat ini Lani juga khawatir dengan kondisi rumahnya di kota Nanga Bulik karena air yang sudah mulai meninggi.

"Tadi pagi (Minggu, 12/7) masih belum naik, sekarang sudah sampai halaman dan sedikit lagi naik ke lantai rumah. Selain mengkhawatirkan suami saya juga khawatir dengan kondisi air yang meninggi di rumah," demikian Lani.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

banjir kalimantan tengah

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top