Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Mulai Rokok Filter hingga Perumahan, Berikut Deretan Penentu Garis Kemiskinan di Kaltim

Beras masih memberi sumbangan terbesar yakni sebesar 15,47 persen di perkotaan dan 16,97 persen di perdesaan.
M. Mutawallie Syarawie
M. Mutawallie Syarawie - Bisnis.com 16 Januari 2023  |  17:22 WIB
Mulai Rokok Filter hingga Perumahan, Berikut Deretan Penentu Garis Kemiskinan di Kaltim
Ilustrasi - Antara
Bagikan

Bisnis.com, BALIKPAPAN –– Komoditas makanan masih memberikan kontribusi paling besar pada Garis Kemiskinan (GK) di Provinsi Kalimantan Timur pada September 2022.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana menyatakan beras masih memberi sumbangan terbesar yakni sebesar 15,47 persen di perkotaan dan 16,97 persen di perdesaan.

Kemudian, rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua dengan 9,59 persen untuk perkotaan dan 13,18 persen di perdesaan.

“Komoditas lainnya adalah daging ayam ras, telur ayam ras, mi instan, tongkol/tuna/cakalang dan seterusnya,” ujarnya dalam rilis BPS, Senin (16/1/2023).

Di sisi lain, komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar di kota maupun desa adalah perumahan, listrik, bensin, pendidikan dan air.

Berdasarkan data yang dihimpun BPS Kaltim, Garis Kemiskinan pada September 2022 sebesar Rp768,120 per kapita per bulan atau naik sebesar 5,48 persen dibandingkan Maret 2022.

"Secara rata-rata, garis kemiskinan per rumah tangga di Kalimantan Timur pada Maret 2022 adalah sebesar Rp 3.571.758,- per rumah tangga/bulan," terang Yusniar.

Dengan memperhatikan komponen GK, yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan.

Yusniar mengungkapkan bahwa besaran Garis Kemiskinan Makanan (GKM) terhadap Garis Kemiskinan (GK) pada September 2022 sebesar 71,17 persen, lebih dari sumbangan Garis Kemiskinan (GKBM) terhadap Garis Kemiskinan (GK) yang hanya sebesar 28,83 persen.

Secara umum, Yusniar menjelaskan tingkat kemiskinan di Kalimantan Timur mengalami peningkatan dari sisi jumlah maupun persentase pada periode September 2015 – September 2022,.

“Hal ini menggambarkan masih dirasakannya dampak Pandemi Covid-19 dalam kehidupan sosial ekonomi yang melanda Indonesia pada umumnya dan Kalimantan Timur pada khususnya, terutama pada tiga tahun terakhir,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Kaltim Isran Noor mengakui angka kemiskinan di daerahnya masih tinggi. Kendati demikian, dia menilai angka itu jauh lebih baik dari rata-rata secara nasional yang masih di atas 10 persen.

Menurutnya, masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani atau nelayan, tidak jarang yang memiliki aset berupa lahan, kebun, ternak, hingga tanaman.

"Namun, ketika indikator kemiskinan melihat daripada kondisi rumah, itu yang membuat nilai kehidupannya jadi rendah," terangnya. 

Guna mengatasi masalah tersebut, Isran menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) sebagai ikhtiar dalam memangkas angka kemiskinan, yaitu dengan membangun rumah layak huni.

"Semua perusahaan yang beroperasi diharap menggunakan dana CSR untuk membangun rumah layak huni," pungkasnya.

Sebagai informasi, jumlah penduduk miskin di Kaltim naik 6.000 jiwa menjadi 242.300 jiwa, periode September 2022. Apabila dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah penduduk miskin naik sebanyak 9,13 ribu orang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemiskinan kaltim
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top